BARAK.ID – Paris tak lagi benderang oleh gemerlap lampu kota, melainkan menyala oleh kobaran api amarah. Bayangkan sebuah unjuk rasa damai yang menuntut perbaikan fasilitas sekolah, dalam sekejap mata bermutasi menjadi zona perang kota yang melumpuhkan jantung Eropa. Itulah mimpi buruk yang kini tengah mencengkeram Prancis.
Bulan lalu, tidak ada yang memprediksi bahwa aksi turun ke jalan yang digerakkan oleh isu pendanaan pendidikan ini akan menjadi prolog dari sebuah kehancuran masif.
Semuanya berawal dari keresahan lokal terkait kondisi sekolah. Namun, tuntutan dari ruang kelas itu rupanya memantik bom waktu keputusasaan sosial yang selama ini tertutup rapat di masyarakat Prancis.
Krisis di sektor pendidikan ternyata hanyalah puncak gunung es. Saat protes berlangsung, jeritan soal pendidikan dengan cepat bersinggungan dengan realitas pahit di lapangan.
Baca Juga: Iran Pamer Stok Rudal Sejjil, Jumlahnya Disebut Tak Terhitung!
Biaya hidup yang mencekik leher, jurang ketimpangan sosial yang makin menganga, serta kekecewaan kronis terhadap kebijakan belanja publik pemerintah yang dinilai elitis.
Ketimpangan inilah yang menjadi bensin sesungguhnya. Gelombang massa dari kelas pekerja yang merasa terpinggirkan perlahan membajak narasi protes, mengubah demonstrasi sekolah menjadi pemberontakan ekonomi yang beringas.
Ketika rasa frustrasi itu tak terbendung lagi, jalanan pun diambil alih. Narasi protes berubah wujud menjadi aksi anarkisme dan penjarahan tanpa pandang bulu.
Butik-butik merek mewah di etalase kota Paris dijarah habis-habisan oleh kelompok perusuh.
Lebih tragis lagi, warisan sejarah tak luput dari amuk massa. Sebuah balai kota yang telah berdiri kokoh selama 140 tahun runtuh tak tersisa akibat pembakaran sengaja, sementara bangunan kantor pariwisata utama di Lyon hangus menjadi abu.
Hingga akhir pekan ini, eskalasi kekerasan telah memaksa aparat keamanan melakukan tindakan represif besar-besaran.
Operasi penyisiran polisi berujung pada penangkapan lebih dari 1.800 orang di seluruh penjuru negeri. Bentrokan fisik di garis depan juga memakan korban jiwa dan luka yang tak sedikit.
Tercatat 150 aparat kepolisian mengalami cedera dalam upaya meredam massa. Di kubu demonstran, satu nyawa melayang akibat henti jantung di tengah pusaran kericuhan, dan tragedi memilukan menimpa sejumlah remaja yang menderita luka parah, salah satunya bahkan dilaporkan kehilangan tangan akibat hantaman granat pembubar massa milik kepolisian.
Bara krisis ini terbukti terlalu besar untuk ditampung oleh Prancis saja, dengan laporan terbaru menyebutkan bahwa percikan kerusuhan mulai menular hingga ke negara tetangganya, Belgia.
Baca Juga: Tel Aviv Disebut Mirip Gaza: Warga Israel Kini Merasakan Penderitaan Palestina?
Menghadapi negaranya yang berada di ambang kekacauan total, Istana Élysée tidak tinggal diam.
Presiden Prancis Emmanuel Macron melontarkan kecaman keras atas eskalasi tersebut.
Ia menegaskan bahwa aksi vandalisme serta penjarahan jalanan sama sekali tidak bisa dijustifikasi dengan dalih apa pun, seraya berjanji bahwa seluruh pelaku akan diseret untuk menghadapi kekuatan hukum penuh.
Sementara itu, Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengambil langkah yang lebih konfrontatif dengan melempar tudingan tajam.
Lecornu mengidentifikasi kelompok sayap kiri radikal atau “ultra-kiri” bersama dengan jaringan kriminal sebagai penunggang gelap yang memicu eskalasi kerusuhan ini.
“Pemerintah republik ini tidak akan pernah sudi tunduk, apalagi terintimidasi oleh aksi-aksi semacam itu,” tandas Lecornu dengan nada ancaman balik kepada para perusuh. [*]











































































