ADA sebuah fenomena sosiologis yang sangat menakjubkan di negara ini, sebuah anomali yang bahkan membuat Karl Marx dan Adam Smith bingung jika mereka masih hidup. Fenomena ini mengalahkan hukum gravitasi dan menabrak segala logika ekonomi dasar.
Mari kita sambut pahlawan tanpa tanda jasa abad ke-21!
Mereka yang slip gajinya lebih tipis dari tisu toilet murahan, tapi semangatnya membela pemerintah di media sosial mengalahkan prajurit Sparta.
Coba perhatikan linimasa media sosial Anda. Pagi hari, pahlawan kita ini mungkin sarapan mie instan kuah yang dibagi dua untuk siang nanti. Namun begitu login ke X (Twitter) atau TikTok, kepribadiannya berubah drastis. Ia mendadak jadi ekonom makro, pakar hukum tata negara, dan juru bicara istana tanpa SK.
Ketika ada netizen yang mengeluhkan harga beras naik atau lapangan kerja yang susah, jari-jarinya akan menari lincah di atas layar smartphone retak yang cicilannya belum lunas. “Bersyukur dong, negara kita pertumbuhannya positif! Makanya kerja keras, jangan nyalahin pemerintah terus! Kurangi biaya hidup!” ketiknya berapi-api, seolah lupa bahwa dia sendiri baru saja ditolak kasbon oleh ibu warteg.
Logikanya begini, kalau kamu dibayar mahal sebagai pendengung (buzzer) atau komisaris BUMN, membela rezim mati-matian adalah sebuah profesionalisme. Tidak bermoral, mungkin, tapi setidaknya cicilan Pajero aman.
Tapi kelompok yang satu ini? Gajinya masih setia nongkrong di bawah UMR. Sekalinya gajian, dipotong BPJS dan iuran ini-itu langsung bikin meriang. Tapi anehnya, mereka rela pasang badan gratisan untuk elit politik yang bepergian naik private jet.
Pejabat idolanya makan Wagyu A5 di restoran bintang lima, sementara pendukung setianya mengunyah obat maag karena menahan lapar di akhir bulan. Tapi tidak apa-apa, perut keroncongan adalah pengorbanan kecil demi tegaknya “Pembangunan Infrastruktur yang Merata, Bro!”
Membela rezim bagi golongan ini rupanya sudah bertransformasi menjadi semacam keyakinan spiritual, yang kalau tidak mau dibilang agama baru. Rukun imannya sangat jelas: percaya pada segala infografis kementerian, percaya bahwa semua janji kampanye sedang dalam proses, dan percaya bahwa setiap kritik yang dialamatkan ke istana adalah bentuk makar, konspirasi asing, atau ulah barisan sakit hati.
Kritik terhadap penguasa dianggap penistaan. Kalau ada warga yang protes jalanan desanya mirip kubangan kerbau, sang pahlawan UMR ini yang akan pasang badan paling depan: “Masih mending dibangunin jalan, bandingin dong sama zaman sebelum kemerdekaan!” Padahal, dia sendiri tiap hari harus lewat jalan rusak yang sama sampai motor bebeknya sudah ganti shockbreaker tiga kali tahun ini.
Dedikasi mereka menembus batas ruang dan waktu. Diomeli bos karena telat masuk kerja? Tidak masalah, yang penting perdebatan membela kebijakan impor pangan di kolom komentar Facebook sudah dimenangkan. Diteror debt collector pinjol? Biarkan saja, fokus utama saat ini adalah memastikan nama baik menteri kesayangan tidak ternoda oleh hashtag kritis.
Pada akhirnya, kita memang harus angkat topi, atau mungkin angkat tangan, pada tingkat keikhlasan mereka. Mungkin inilah puncak tertinggi dari stoikisme kearifan lokal. Menerima nasib melarat di dunia nyata, demi mempertahankan ilusi utopia di dunia maya.
Jadi, biarkan saja mereka. Lanjutkan perjuanganmu, Kawan! Siapa tahu, dengan pengabdian tanpa pamrih membela para elit politik ini, kelak di akhirat kamu akan dijemput pakai mobil dinas menteri berpelat RI.
Atau minimal, kalau reinkarnasi itu nyata, di kehidupan selanjutnya kamu bisa terlahir menjadi kucing peliharaan pejabat.
Setidaknya, makanannya jauh lebih bergizi daripada sisa gaji di bawah UMR-mu saat ini. [*]











































































