Barak.id – Api, serpihan kaca, dan raungan sirine kini sepenuhnya menggantikan romansa jalanan kota-kota besar di Prancis. Apa yang tersaji di sana bukan lagi sekadar unjuk rasa, melainkan sebuah ledakan anarki murni. Hukum seolah lumpuh ketika gelombang massa mengubah protes sosial menjadi aksi penjarahan ekstrem dan kekerasan brutal yang melumpuhkan Paris hingga Lyon.
Momen-momen yang terekam dan viral di media sosial memperlihatkan eskalasi kengerian yang tak terbayangkan.
Etalase butik-butik merek mewah di kawasan elite hancur dijebol, di mana kelompok perusuh merangsek masuk dan menguras habis barang-barang berharga di dalamnya.
Penjarahan ini tak lagi membawa bendera tuntutan biaya hidup, melainkan murni oportunisme dan brutalitas yang terorganisir.
Tidak hanya pusat ekonomi yang menjadi bulan-bulanan, simbol-simbol sejarah negara turut dihancurkan tanpa ampun.
Baca Juga: Prancis Darurat Kejahatan Jalanan, Pembakaran Fasilitas Umum dan Penjarahan Ekstrem Merajalela
Sebuah gedung balai kota bersejarah yang telah berdiri megah selama 140 tahun dibakar hingga runtuh menyisakan kerangka hitam.
Di tempat lain, kantor pusat pariwisata Lyon tak luput dari sasaran pembakaran massal yang dilakukan oleh para vandalis.
Garis depan bentrokan antara perusuh dan aparat keamanan kini menjelma bak zona perang terbuka.
Data terbaru mencatat tingkat kekerasan yang mengerikan: sedikitnya 150 anggota kepolisian terluka akibat hujan batu, besi, hingga bom molotov.
Sebagai respons, aparat meluncurkan operasi penindakan represif berskala masif yang berujung pada penangkapan lebih dari 1.800 orang di berbagai penjuru negeri hingga akhir pekan ini.
Tragedi kemanusiaan pun tak terhindarkan di tengah kekacauan ini.
Kericuhan ekstrem telah memakan satu korban jiwa dari pihak sipil akibat henti jantung di tengah pusaran bentrok.
Kengerian lainnya menimpa sejumlah remaja yang menderita luka sangat parah, dengan satu laporan tragis menyebutkan seorang pemuda kehilangan tangannya akibat ledakan granat pembubar massa milik kepolisian.
Baca Juga: Prancis Dilanda Kerusuhan Massal dan Penjarahan Merek Mewah
Bara anarki ini bahkan dilaporkan mulai merembes melewati batas negara, memicu ketegangan serupa di wilayah Belgia.
Melihat negaranya dilanda teror jalanan, para petinggi Prancis merespons dengan tangan besi.
Presiden Emmanuel Macron melontarkan kutukan keras terhadap gelombang perusakan tersebut.
Ia menegaskan bahwa aksi penjarahan barbar ini sama sekali tidak memiliki ruang pembenaran, seraya menggaransi bahwa aparat akan memburu dan menghukum berat setiap pelaku yang terlibat.
Senada dengan Macron, Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyorot tajam kelompok-kelompok radikal di balik layar.
Ia secara gamblang menuding faksi “ultra-kiri” yang berkolaborasi dengan sindikat kriminal jalanan sebagai provokator utama kerusuhan ini.
“Pemerintah republik tidak akan pernah sudi bertekuk lutut, apalagi membiarkan teror jalanan ini menang dan mengintimidasi negara,” tegas Lecornu mengultimatum kelompok perusuh. [*]











































































