FENOMENA penipuan berkedok investasi kripto terus berkembang dengan berbagai modus. Salah satu pola yang kerap menjadi sorotan adalah ketika pelaku mengaku telah bangkrut, bahkan membiarkan sebagian asetnya disita, namun tetap tampil percaya diri seolah masih memiliki kekuatan finansial maupun pengaruh besar.
Bagi masyarakat awam, kondisi tersebut sering menimbulkan pertanyaan. Jika benar bangkrut, mengapa masih mampu hidup mewah? Jika benar tidak memiliki uang, mengapa masih berani menjanjikan keuntungan baru kepada calon korban?
Pailit Bukan Berarti Seluruh Harta Hilang
Dalam berbagai kasus dugaan penipuan investasi, status pailit atau penyitaan aset tidak selalu identik dengan hilangnya seluruh kekayaan seseorang.
Apabila sejak awal terdapat aset yang telah dialihkan kepada pihak lain, disembunyikan melalui rekening berbeda, menggunakan identitas orang lain, atau dipindahkan ke aset digital yang sulit dilacak, proses penyitaan menjadi jauh lebih rumit.
Di dunia kripto, aset dapat berpindah lintas negara hanya dalam hitungan menit. Tanpa pelacakan digital yang memadai, sebagian aset bisa saja belum berhasil ditemukan oleh aparat maupun kurator.
Karena itu, penyitaan aset bukan otomatis berarti seluruh hasil kejahatan telah berhasil diamankan.
Pura-Pura Bangkrut untuk Membangun Simpati
Modus lain yang sering muncul adalah memainkan peran sebagai korban keadaan.
Narasi seperti “saya juga tertipu”, “semua aset sudah habis”, atau “saya juga menderita” terkadang digunakan untuk membangun simpati para korban.
Padahal, tujuan utamanya bisa saja untuk menurunkan tekanan publik sekaligus mengurangi tuntutan agar para korban berhenti mengejar pengembalian dana.
Ironisnya, di saat yang sama, masih ada korban baru yang percaya karena menganggap pelaku benar-benar sedang mengalami musibah.
Masih Percaya Diri Mengaku Punya Kekuatan
Tidak sedikit pelaku yang tetap tampil penuh percaya diri meski sedang menghadapi berbagai persoalan hukum.
Mereka masih aktif di media sosial, tetap memberikan motivasi, bahkan sesekali mengklaim memiliki jaringan kuat, relasi penting, atau kemampuan untuk segera bangkit.
Bagi sebagian pengikutnya, penampilan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa sang tokoh memang hebat.
Namun dalam banyak modus penipuan, rasa percaya diri justru menjadi bagian dari strategi membangun citra agar korban tetap yakin dan enggan mempertanyakan ke mana sebenarnya uang mereka mengalir.
Donatur Dijadikan Mesin Uang
Dalam skema investasi kripto bodong, korban sering kali tidak diperlakukan sebagai investor, melainkan sebagai sumber pendanaan.
Dana yang masuk digunakan untuk membayar korban lama, membiayai gaya hidup pelaku, membangun citra kesuksesan, hingga memperluas jaringan perekrutan.
Ketika aliran dana baru berhenti, skema mulai runtuh. Pada titik inilah berbagai alasan mulai bermunculan, mulai dari gangguan sistem, aset dibekukan, hingga perusahaan dinyatakan pailit.
Jangan Terkecoh dengan Drama Bangkrut!
Masyarakat perlu memahami bahwa status bangkrut tidak otomatis membuktikan seseorang sudah tidak memiliki apa-apa.
Dalam beberapa kasus, proses penelusuran aset membutuhkan waktu panjang, terutama bila melibatkan aset digital, transaksi lintas negara, atau dugaan penyamaran kepemilikan.
Karena itu, korban sebaiknya tidak mudah percaya pada narasi bahwa seluruh kekayaan telah habis hanya karena mendengar adanya penyitaan sebagian aset atau pernyataan pailit.
Waspadai Janji yang Terlalu Indah
Modus penipuan kripto hampir selalu memiliki pola yang mirip: menawarkan keuntungan tinggi, mengklaim memiliki teknologi canggih, memamerkan gaya hidup mewah, serta membangun citra sebagai sosok berpengaruh.
Ketika mulai bermasalah, narasi berubah menjadi drama kebangkrutan, penyitaan aset, atau tuduhan bahwa semua pihak sedang berusaha menjatuhkannya.
Masyarakat sebaiknya tetap bersikap kritis, melakukan verifikasi terhadap legalitas investasi, memahami risiko aset kripto, dan tidak mudah menyerahkan dana hanya karena terpikat oleh janji keuntungan besar atau sosok yang tampak meyakinkan.
Pada akhirnya, dalam banyak kasus dugaan penipuan investasi, yang paling dirugikan bukanlah pelaku yang mengaku bangkrut, melainkan para korban yang kehilangan tabungan, harapan, dan kepercayaan akibat tergiur janji manis yang ternyata tidak pernah menjadi kenyataan. [zainal barak]
