Barak.id – Sistem pertahanan udara milik Israel yang selama ini dikenal sebagai salah satu teknologi militer paling canggih di dunia ternyata tidak sepenuhnya kebal. Dalam rangkaian serangan terbaru, sejumlah rudal jadul (stok lama) yang diluncurkan Iran, dilaporkan mampu menembus jaringan pencegat berlapis Israel.
Konflik bersenjata antara Iran dan Israel kembali memunculkan pertanyaan besar tentang efektivitas sistem pertahanan udara paling canggih di dunia.
Informasi dihimpun pada Senin (9/3/2026) dari sejumlah laporan militer dan analis pertahanan menyebut beberapa rudal jadul yang diluncurkan Teheran mampu menembus sistem pencegat berlapis milik Israel.
Padahal selama ini Israel dikenal memiliki teknologi pertahanan udara mutakhir yang diklaim mampu melindungi wilayahnya dari serangan roket, drone, hingga rudal balistik jarak jauh.
Pertahanan Udara Berlapis
Israel membangun sistem pertahanan udara dengan konsep multi-layer defense, yaitu jaringan pencegat yang bekerja pada berbagai ketinggian dan jarak ancaman.
Lapisan pertama adalah Iron Dome, sistem yang dirancang untuk menghadapi roket jarak pendek, artileri, dan drone.
Sistem ini menggunakan radar untuk mendeteksi proyektil yang masuk dan meluncurkan rudal pencegat Tamir guna menghancurkannya di udara.
Baca Juga: Babak Belur! Iron Dome Masih Dihujani Rudal Iran Tanpa Henti hingga Tak Berfungsi
Di lapisan berikutnya terdapat David’s Sling yang berfungsi menghadapi rudal jarak menengah serta rudal jelajah.
Untuk ancaman lebih jauh, Israel mengoperasikan sistem Arrow 2 dan Arrow 3 yang dirancang mencegat rudal balistik bahkan di luar atmosfer.
Baca Juga: Benarkah Ada Negara yang Meminta Iran “Melenyapkan” Amerika Serikat?
Selain itu, Israel juga mulai mengembangkan sistem laser baru bernama Iron Beam yang diklaim mampu menembak jatuh drone dan roket dengan biaya operasional jauh lebih murah dibanding rudal pencegat konvensional.
Dengan kombinasi teknologi tersebut, Israel selama bertahun-tahun menyatakan tingkat keberhasilan intersepsi bisa mencapai lebih dari 80 hingga 90 persen terhadap berbagai ancaman udara.
Rudal Lama Tetap Bisa Menembus
Namun dalam serangan terbaru, sebagian rudal Iran tetap berhasil mencapai wilayah Israel. Menariknya, sejumlah analis militer menilai sebagian senjata yang digunakan Iran bukanlah teknologi terbaru, melainkan pengembangan dari desain rudal yang telah lama dimiliki negara itu.
Baca Jiga: Kuwait Tembak Jatuh Tiga Jet Tempur F-15E Milik AS
Kondisi ini memicu diskusi di kalangan pengamat keamanan global mengenai bagaimana sistem pertahanan udara canggih bisa ditembus oleh rudal yang secara teknologi dianggap tidak terlalu baru.
Para pakar menegaskan bahwa tidak ada sistem pertahanan udara yang sepenuhnya kedap serangan. Bahkan sistem paling modern sekalipun memiliki tingkat kebocoran tertentu.
Taktik Banjir Rudal
Salah satu faktor utama yang disebut membuat sistem pencegat kewalahan adalah serangan saturasi, yaitu taktik meluncurkan banyak rudal dan drone secara bersamaan.
Baca Juga: Ratusan Pelajar Iran Tewas Digempur Serangan Udara, AS Klaim “Tak Sengaja”
Dengan jumlah target yang datang dalam waktu hampir bersamaan, sistem radar dan pencegat harus memilih prioritas ancaman yang paling berbahaya. Dalam situasi tersebut, beberapa proyektil berpotensi lolos dari intersepsi.
Strategi ini sering digunakan dalam perang modern karena dapat menguras stok interceptor yang jumlahnya terbatas.
Drone Murah Sebagai Umpan
Iran juga disebut menggunakan kombinasi drone murah dan rudal lama sebagai bagian dari strategi serangan.
Baca Juga: Iran Gempur 27 Target Israel-AS dengan Rudal Balistik
Drone dan roket sederhana diluncurkan lebih dahulu untuk memancing sistem pertahanan Israel menembakkan rudal pencegat. Setelah sistem tersebut sibuk menghadapi gelombang awal, barulah rudal yang lebih berbahaya diluncurkan.
Metode ini dinilai efektif untuk memaksa sistem pertahanan menghabiskan amunisi atau menghadapi terlalu banyak target dalam waktu bersamaan.
Baca Juga: Iran Kibarkan “Bendera Darah” di Qom, Simbol Balas Dendam Habis-Habisan ke AS-Israel
Tantangan Ekonomi Pertahanan
Faktor biaya juga menjadi perhatian para analis. Rudal pencegat yang digunakan dalam sistem pertahanan udara modern memiliki harga yang sangat mahal.
Satu rudal interceptor untuk sistem pertahanan strategis bisa bernilai jutaan dolar. Sebaliknya, drone atau roket sederhana yang digunakan sebagai umpan sering kali hanya berharga sebagian kecil dari biaya tersebut.
Baca Juga: 209 Drone Iran Hujani Palm Jumeirah Dubai, UAE Siaga Penuh
Ketimpangan biaya ini membuat strategi serangan massal dengan senjata murah menjadi cara efektif untuk menekan sistem pertahanan lawan.
Kebocoran Sistem Pertahanan
Meski beberapa rudal berhasil menembus pertahanan, analis menilai efektivitas sistem pertahanan Israel tetap tinggi.
Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Meninggal Dunia, Iran Umumkan 40 Hari Berkabung
Sebagian besar serangan udara masih berhasil dihentikan sebelum mencapai target, sementara hanya sebagian kecil proyektil yang lolos.
Dalam terminologi militer, kondisi tersebut dikenal sebagai “leak rate”, yaitu persentase kecil ancaman yang berhasil melewati sistem pertahanan udara.
Baca Juga: Dubai Membara! Drone Peledak Jatuh di Pulau Mewah Palm Jumeirah
Perang Teknologi yang Terus Berkembang
Perkembangan ini menunjukkan bahwa perlombaan teknologi antara sistem pertahanan udara dan teknologi rudal terus berlangsung.
Setiap peningkatan kemampuan pencegat biasanya diikuti oleh inovasi baru dalam teknologi rudal, termasuk peningkatan kecepatan, kemampuan manuver, hingga strategi peluncuran. [*/sh]