Barak.id – Di tengah guncangan perang yang melanda Timur Tengah, Iran mengibarkan bendera darah “Flag of Revenge” di atas Masjid Jamkaran, kota suci Qom, yang menjadi sebuah kode perang yang jelas sebagai panggilan balas dendam tanpa ampun kepada Amerika Serikat dan Israel setelah serangan udara besar yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Simbol itu bukan sekadar kain, informasi dihimpun pada Minggu (1/3/2026) menyebutkan, bagi para pejuang dan komandan di garis depan, bendera merah berarti darah belum terbalaskan, dan dengan tegas menjadi pesan bahwa Iran siap membalas luka dan kehancuran dengan kekuatan penuh.
Baca Juga: 209 Drone Iran Hujani Palm Jumeirah Dubai, UAE Siaga Penuh
Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan pasukan Israel, yang menghantam jantung kekuasaan Iran di Teheran dan menghabisi Khamenei bersama sejumlah komandan seniornya, telah memicu gelombang kemarahan di tubuh Republik Islam.
Jalan-jalan besar di ibu kota berubah sunyi, sementara suara sirene perang meraung dan roket Iran meluncur ke target musuh dalam hitungan jam setelah serangan.
Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Meninggal Dunia, Iran Umumkan 40 Hari Berkabung
Di Qom, di bawah bendera merah yang berkibar, suara keras rakyat dan milisi bergema, “Balas dendam adalah takdir kita!”, seruan yang kini menjadi bagian dari strategi perang Iran terhadap lawan-lawan yang telah menantang kedaulatannya.
Lebih jauh lagi, Iran telah menyiapkan serangkaian operasi balasan rudal dan drone terhadap target di wilayah Israel dan pangkalan AS di Teluk, sementara pihak lawan terus melanjutkan serangan udara ke wilayah Iran, menjadikan konflik ini semakin brutal dan tak kenal kompromi.
Baca Juga: Dubai Membara! Drone Peledak Jatuh di Pulau Mewah Palm Jumeirah
Langkah simbolik pengibaran bendera merah itu dipandang oleh komandan lapangan sebagai permulaan fase baru perang total, bukan hanya sekadar konflik regional, tetapi sebuah pertempuran kehormatan yang sengit yang bisa menghancurkan stabilitas kawasan dan membuka bab baru dalam sejarah konflik Iran melawan kekuatan Barat dan sekutunya. []











































































