Barak.id – Dalam beberapa serangan rudal Iran dan drone ke wilayah Israel terbaru, sejumlah proyektil dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan udara Iron Dome.
Serangan rudal tersebut merupakan bagian dari eskalasi konflik setelah operasi militer yang melibatkan Israel dan sekutunya terhadap target di Iran.
Baca Juga: Benarkah Ada Negara yang Meminta Iran “Melenyapkan” Amerika Serikat?
Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangkaian serangan rudal balistik serta drone ke berbagai target, termasuk wilayah Israel.
Pertahanan Iron Dome Jebol Dihujani Rudal Iran
Informasi dihimpun dari laporan sejumlah media internasional, Minggu (8/3/2026), menyebutkan bahwa dalam beberapa gelombang serangan, rudal Iran berhasil melewati sistem pertahanan udara Israel dan menghantam area permukiman.
Baca Juga: Kuwait Tembak Jatuh Tiga Jet Tempur F-15E Milik AS
Salah satu insiden paling mematikan terjadi di wilayah Beit Shemesh, ketika sebuah rudal balistik Iran menembus pertahanan udara dan menghantam bangunan di kawasan tersebut.
Serangan itu menewaskan sedikitnya sembilan orang, sementara belasan lainnya dilaporkan hilang dan puluhan mengalami luka-luka.
Baca Juga: Ratusan Pelajar Iran Tewas Digempur Serangan Udara, AS Klaim “Tak Sengaja”
Serangan lain juga dilaporkan menghantam wilayah metropolitan seperti Tel Aviv, memicu ledakan besar dan kepanikan warga yang bergegas menuju bunker perlindungan.
Data dari laporan konflik menunjukkan Iran telah meluncurkan puluhan hingga ratusan rudal dalam beberapa gelombang serangan.
Baca Juga: Iran Gempur 27 Target Israel-AS dengan Rudal Balistik
Dalam satu serangan besar, sekitar 125 rudal balistik diluncurkan, dan setidaknya 35 di antaranya dilaporkan berhasil lolos dari intersepsi sistem pertahanan Israel.
Strategi “Saturation Attack”
Para analis militer menilai keberhasilan sebagian rudal Iran menembus pertahanan Israel bukan semata karena sistem Iron Dome gagal total, melainkan akibat strategi yang dikenal sebagai “saturation attack”.
Baca Juga: Iran Kibarkan “Bendera Darah” di Qom, Simbol Balas Dendam Habis-Habisan ke AS-Israel
Dalam strategi ini, penyerang meluncurkan banyak rudal dan drone secara bersamaan untuk membanjiri sistem pertahanan udara musuh.
Dengan jumlah proyektil yang sangat besar, sistem pertahanan dipaksa bekerja melebihi kapasitas normalnya sehingga sebagian ancaman bisa lolos.
Baca Juga: 209 Drone Iran Hujani Palm Jumeirah Dubai, UAE Siaga Penuh
Analisis militer menyebut Iran telah mengembangkan pendekatan ini selama beberapa tahun, termasuk dengan mengombinasikan serangan drone murah dengan rudal balistik berkecepatan tinggi.
Drone digunakan sebagai umpan untuk memancing sistem pertahanan menembakkan interceptor, sementara rudal balistik yang lebih cepat datang dalam gelombang berikutnya.
Iron Dome Tidak Dirancang untuk Semua Ancaman
Iron Dome sendiri merupakan bagian dari sistem pertahanan udara berlapis milik Israel. Sistem ini dirancang khusus untuk mencegat roket jarak pendek dan proyektil yang diperkirakan akan jatuh di kawasan padat penduduk.
Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Meninggal Dunia, Iran Umumkan 40 Hari Berkabung
Namun, Iron Dome bukan satu-satunya sistem pertahanan Israel. Negara itu juga mengoperasikan sistem lain seperti David’s Sling dan Arrow untuk menghadapi rudal jarak menengah hingga balistik jarak jauh.
Karena itu, sebagian analis menilai istilah “Iron Dome lumpuh” yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya akurat.
Baca Juga: Dubai Membara! Drone Peledak Jatuh di Pulau Mewah Palm Jumeirah
Sistem tersebut masih berfungsi dan tetap berhasil mencegat banyak proyektil, meskipun beberapa serangan berhasil menembus pertahanan.
Perang Rudal Modern
Eskalasi terbaru ini menunjukkan perubahan karakter perang modern di Timur Tengah.
Alih-alih mengandalkan satu jenis senjata, negara-negara kini menggunakan kombinasi rudal balistik, drone, dan taktik serangan massal untuk menekan sistem pertahanan udara.
Baca Juga: Radar Anti Rudal Canggih Milik AS di Qatar Hancur Total Dirudal IRGC Iran
Beberapa laporan bahkan menunjukkan Iran juga menargetkan radar dan infrastruktur pendukung sistem pertahanan udara di kawasan Timur Tengah untuk melemahkan jaringan deteksi dan intersepsi.
Situasi tersebut membuat konflik Iran–Israel semakin kompleks dan meningkatkan kekhawatiran bahwa perang dapat meluas ke kawasan yang lebih luas. [*/sh]