Barak.id — Kritik terhadap kebijakan militer Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin keras. Sejumlah laporan anggaran dan analisis kebijakan luar negeri menunjukkan bahwa Washington telah menghabiskan lebih dari US$30 miliar dana publik untuk operasi militer dan dukungan perang Israel melawan Iran, sebuah konflik yang oleh banyak analis disebut tidak memiliki tujuan strategis yang jelas.
Informasi dihimpun Minggu (15/3/2026), pengeluaran raksasa itu berasal dari kombinasi operasi militer langsung, pengerahan pasukan besar-besaran ke Timur Tengah, serta bantuan militer berkelanjutan kepada Israel.
Baca Juga: Rudal Iran Makin Ugal-ugalan, Tel Aviv Bak Neraka: Ledakan 24 Jam Nonstop Hantam Kota
Para pengkritik di Washington menyebut kebijakan tersebut sebagai “membakar uang pajak rakyat Amerika” demi perang yang berisiko menjadi konflik panjang.
Biaya Perang Membengkak Sejak Hari Pertama
Data awal menunjukkan betapa mahalnya konflik tersebut sejak dimulai.
Analisis lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan bahwa Amerika Serikat menghabiskan sekitar US$3,7 miliar hanya dalam 100 jam pertama operasi militer terhadap Iran.
Baca Juga: Aparat Keamanan Israel Mulai Frustrasi, Pukuli Warga yang Rekam Lokasi Serangan Rudal
Pada fase awal perang, pengeluaran militer diperkirakan mencapai sekitar US$900 juta per hari, terutama untuk penggunaan bom presisi, rudal jarak jauh, dan operasi pesawat tempur strategis.
Bahkan laporan kepada Kongres AS menyebut enam hari pertama perang saja sudah menelan biaya lebih dari US$11,3 miliar, sebagian besar untuk amunisi dan sistem persenjataan berteknologi tinggi.
Baca Juga: Apa Itu “Link Genius” Rank Math? Fitur AI Internal Linking yang Sedang Viral di Dunia SEO
Angka tersebut belum termasuk biaya logistik, perawatan pasukan, atau penggantian alat militer yang rusak.
Total Beban Dana Publik Sudah Melewati US$30 Miliar
Selain operasi militer langsung, pemerintah AS juga menanggung biaya besar untuk mempertahankan kehadiran militer di Timur Tengah dan mendukung Israel.
Proyek Costs of War dari Brown University memperkirakan bahwa pengeluaran Amerika di kawasan Timur Tengah sejak 2023 hingga 2025 sudah mencapai sekitar US$31,5–33,7 miliar, termasuk bantuan militer kepada Israel serta operasi di Iran dan negara lain di kawasan.
Jika digabung dengan biaya operasi militer terbaru terhadap Iran pada 2026, total pengeluaran Washington kini diperkirakan telah melampaui US$30 miliar.
Sebagian besar dana tersebut berasal dari anggaran federal yang dibiayai oleh pajak warga Amerika.
Perang Tanpa Strategi Jelas
Yang membuat kontroversi semakin besar adalah ketidakjelasan tujuan perang.
Sejumlah analis keamanan nasional menyebut konflik tersebut dimulai tanpa perencanaan yang matang dan tanpa strategi keluar yang jelas.
Baca Juga: 10 Negara Ikut “Ketiban Sial” Gara-gara AS–Israel Serang Iran, Indonesia Termasuk yang Kena Getahnya
Laporan media internasional menyebutkan bahwa operasi militer yang dipimpin Washington telah memicu kekacauan strategis dan berpotensi membebani militer AS selama bertahun-tahun.
Target perang sendiri berubah-ubah, mulai dari menghancurkan program nuklir Iran, menjatuhkan kepemimpinan Iran, hingga membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Baca Juga: Operasi Ketupat 2026 Dimulai, Panglima TNI dan Kapolri Siapkan Ribuan Pos Pengamanan Mudik
Perubahan tujuan yang terus bergeser ini memicu kritik keras di Kongres dan komunitas kebijakan luar negeri.
Bisa Membengkak Hingga US$65 Miliar
Para ekonom memperingatkan bahwa biaya perang saat ini baru tahap awal.
Direktur Penn Wharton Budget Model, Kent Smetters, memperkirakan konflik tersebut dapat menelan biaya setidaknya US$40 miliar dan kemungkinan mencapai sekitar US$65 miliar bagi pembayar pajak Amerika.
Baca Juga: Israel Terkini: Serangan Drone dan Rudal Iran Rusakkan 9 Ribu Bangunan, Tel Aviv Paling Parah
Jika perang berlangsung lebih lama atau melibatkan operasi darat besar-besaran, angka tersebut bahkan bisa jauh lebih tinggi.
“Ada Uang untuk Perang, Tidak untuk Rakyat”
Di dalam negeri Amerika Serikat, perang ini memicu kritik sosial yang tajam.
Sejumlah komentator menilai pemerintah dengan mudah menggelontorkan miliaran dolar untuk operasi militer, sementara warga Amerika masih menghadapi krisis biaya kesehatan, inflasi, dan kenaikan harga energi.
Baca Juga: Trump Persiapkan Bomber B-52 dan B-1, Sinyal “Selesaikan” Iran Sebelum Akhiri Perang?
Kritik tersebut kembali menghidupkan perdebatan anggaran perang terus membengkak sementara kebutuhan sosial domestik sering kali kekurangan dana. [*/sh]