Barak.id – Serangan Israel terhadap sejumlah depot dan fasilitas minyak Iran memicu kekhawatiran serius di pasar energi global. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah membuat harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga US$200 per barel, setelah Iran memperingatkan bahwa konflik yang menargetkan infrastruktur energi dapat berubah menjadi “perang energi” yang mengguncang pasokan minyak global.
Informasi dihimpun Selasa (10/3/2026), serangan tersebut dilaporkan menghantam beberapa lokasi energi di sekitar Teheran dan memicu kebakaran besar di fasilitas penyimpanan bahan bakar.
Menyusul serangan itu, pejabat militer Iran memperingatkan bahwa jika aksi militer Israel terus berlanjut, Teheran dapat memperluas serangan ke infrastruktur minyak di kawasan Teluk, yang dinilai bisa mendorong harga minyak dunia menembus US$200 per barel.
Sinyal eskalasi tersebut langsung mengguncang pasar komoditas global. Harga minyak mentah bahkan telah melonjak melampaui US$100 per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan yang memasok sebagian besar energi dunia.
Baca Juga: Sadar dari Mabuk, Wanita Ini Langsung Histeris Saat Tahu Celana Dalamnya Hilang, Videonya Viral
Jika konflik terus meluas dan menyeret infrastruktur energi di Timur Tengah, para analis memperingatkan dunia bisa menghadapi krisis energi global baru yang dampaknya jauh melampaui kawasan konflik.
Serangan Israel terhadap fasilitas minyak Iran memicu kekhawatiran baru di pasar internasional, dengan sejumlah pihak memperingatkan harga minyak dunia bisa melonjak hingga US$200 per barel jika konflik terus meluas.
Serangan tersebut menargetkan sejumlah depot bahan bakar dan fasilitas energi di sekitar Teheran, yang memicu kebakaran besar dan asap hitam membumbung di beberapa lokasi strategis.
Serangan terhadap infrastruktur energi dianggap sebagai eskalasi berbahaya, karena sektor minyak merupakan tulang punggung ekonomi Iran sekaligus bagian penting dari pasokan energi dunia.
Ancaman “Perang Energi” Timur Tengah
Tak lama setelah serangan itu, militer Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Israel dan sekutunya.
Baca Juga: Rudal Jadul Iran Tembus 4 Sistem Pertahanan Udara Canggih Israel, Kok Bisa?
Juru bicara militer Iran menyatakan, jika serangan terhadap fasilitas energi terus berlanjut, Iran tidak akan ragu memperluas target serangan, termasuk ke infrastruktur minyak di seluruh kawasan Teluk.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, pejabat militer bahkan memperingatkan dampak ekonomi global yang bisa terjadi.
“Jika kalian mampu menanggung harga minyak lebih dari US$200 per barel, silakan lanjutkan permainan ini,” kata seorang juru bicara militer Iran.
Pernyataan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai sinyal bahwa Iran siap menggunakan energi sebagai senjata geopolitik jika konflik terus meningkat.
Pasar Energi Langsung Bereaksi
Ketegangan ini langsung mengguncang pasar komoditas global.
Para trader energi memperkirakan gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk dapat terjadi jika konflik berubah menjadi perang energi regional.
Pasar minyak pun bereaksi cepat, dengan harga minyak mentah dunia melonjak hingga mendekati US$120 per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Lonjakan ini dipicu kekhawatiran bahwa serangan terhadap fasilitas energi dapat:
- Mengganggu Produksi Minyak Iran
- Memicu serangan balasan terhadap fasilitas minyak negara Teluk
- Menghambat jalur distribusi energi global
Jika salah satu skenario tersebut terjadi, pasokan minyak dunia bisa terguncang secara drastis.
Risiko Terbesar: Selat Hormuz
Para analis energi menilai risiko terbesar dari konflik ini adalah kemungkinan terganggunya Selat Hormuz, jalur laut vital yang dilalui sebagian besar ekspor minyak Timur Tengah.
Baca Juga: Babak Belur! Iron Dome Masih Dihujani Rudal Iran Tanpa Henti hingga Tak Berfungsi
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap hari. Gangguan kecil saja di jalur tersebut dapat langsung mengerek harga minyak global secara signifikan.
Jika Iran benar-benar menutup atau mengganggu jalur ini sebagai respons atas serangan Israel, pasar energi global bisa menghadapi krisis pasokan besar.
Dunia Khawatir Krisis Energi Baru
Sejumlah negara dan pelaku pasar kini memantau perkembangan konflik dengan sangat cermat. Serangan terhadap fasilitas energi dinilai sebagai garis merah yang dapat memperluas perang dari konflik militer menjadi krisis ekonomi global.
Baca Juga: Mengenal USDT (Tether), Stablecoin yang Menjadi “Dolar Digital” di Pasar Kripto
Para analis memperingatkan bahwa harga minyak US$200 per barel bukan lagi sekadar spekulasi, melainkan kemungkinan nyata jika:
- Serangan Israel terhadap fasilitas energi Iran terus berlanjut.
- Iran membalas dengan menargetkan infrastruktur minyak negara-negara Teluk.
- Jalur distribusi minyak global terganggu.
Jika skenario tersebut terjadi, dunia bisa menghadapi guncangan energi terbesar sejak krisis minyak 1970-an. [*/sh]