Barak.id — Tel Aviv, ibu kota Israel, disebut mirip Gaza. Suara sirene meraung, warga berlarian mencari perlindungan, dan langit malam kembali diterangi ledakan. Situasi ini kini bukan lagi gambaran Gaza, tetapi juga mulai dirasakan di Israel.
Gelombang serangan balasan Iran dalam beberapa hari terakhir menghantam sejumlah wilayah Israel, termasuk Tel Aviv dan kota-kota di sekitarnya.
Baca Juga: Ingin Selalu Benar dan Tak Pernah Mau Mengaku Salah? Psikolog Sebut Itu Penyakit
Informasi dihimpun Kamis (19/3/2026), ribuan warga Israel dilaporkan tewas, meski otoritas setempat tetap merahasiakan jumlah pastinya.
Korban tewas termasuk pasangan lansia yang terkena serpihan rudal saat mencoba menyelamatkan diri ke bunker.
Tidak hanya korban jiwa, kerusakan juga meluas ke permukiman, fasilitas publik, hingga jaringan transportasi.
Api sempat terlihat membakar sejumlah bangunan, sementara puing-puing berserakan di kawasan padat penduduk.
Sirene, Bunker, dan Ketakutan yang Jadi Rutinitas
Di tengah rentetan serangan, kehidupan warga Israel berubah drastis.
Sirene peringatan kini menjadi suara yang paling sering terdengar. Dalam hitungan detik, warga harus berlari menuju bunker atau ruang perlindungan.
Laporan dari lapangan menyebutkan, ribuan warga mengungsi atau tidur di tempat perlindungan.
Selain itu, bunker-bunker dikabarkan telah penuh, bahkan sebagian warga terpaksa berlindung di tangga atau parkiran bawah tanah
Aktivitas publik juga terganggu, sekolah dan transportasi ikut terdampak.
Situasi ini menggerus rasa aman yang selama ini relatif terjaga. Bahkan, tidak semua rudal berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel.
Dalam beberapa kasus, rumah warga hancur dan ribuan orang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya akibat kerusakan parah.
Dampak Perang Mulai Berbalik ke Dalam Negeri
Serangan Iran disebut sebagai respons atas operasi militer Israel sebelumnya yang menghantam wilayah Iran dan menewaskan banyak warga sipil serta menghancurkan ribuan bangunan.
Kini, dampaknya mulai terasa langsung di dalam negeri Israel sendiri.
Analis menilai, kondisi ini menciptakan realitas perang tidak lagi “jauh dari rumah”, tetapi sudah masuk ke ruang hidup warga sipil.
Tekanan psikologis meningkat tajam. Ketidakpastian kapan serangan berikutnya datang membuat banyak warga hidup dalam kecemasan berkepanjangan.
“Israel Kini Merasakan Gaza”
Di tengah situasi ini, muncul narasi yang ramai diperbincangkan di berbagai platform global, bahwa warga Israel kini mulai merasakan ketakutan yang selama ini dialami warga Palestina di Gaza.
Namun demikian, sejumlah pengamat menekankan bahwa kondisi Israel dan Gaza belum sepenuhnya setara.
Israel mengklaim masih memiliki sistem pertahanan udara canggih, meski pada kenyataannya tidak lagi ampuh menangkal serangan.
Infrastruktur Israel yang sebelumnya disebut lebih kuat, nyatanya hancur ditembus hulu ledak rudal Iran.
Akses perlindungan seperti bunker yang luas, terkini dikabarkan tak lagi kebal terhadap hantaman rudal Sijjil.
Sementara di Gaza, kerusakan terjadi dalam skala jauh lebih masif dan berkepanjangan.
Eskalasi ini menandai perubahan besar dalam dinamika konflik.
Jika sebelumnya perang lebih banyak dirasakan di luar wilayah Israel, kini dampaknya mulai terasa langsung di dalam negeri.
Langit yang dulu dianggap aman, kini dipenuhi ancaman. Rumah yang dulu menjadi tempat berlindung, kini bisa berubah menjadi sasaran.[*/sh]