Barak.id — Presiden Prabowo Subianto melontarkan peringatan keras kepada para pejabat pemerintah agar menghentikan praktik laporan yang dimanipulasi atau dibuat sekadar untuk menyenangkan atasan. Ia menegaskan tidak ingin lagi menerima laporan bergaya “asal bapak senang” (ABS) yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Pernyataan tegas itu disampaikan Prabowo saat menghadiri acara tasyakuran satu tahun Badan Pengelola Investasi Badan Pengelola Investasi Danantara di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga: Iran Diduga Mulai Tebar Ranjau Laut di Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Meledak!
Dalam pidatonya, presiden mengaku gerah karena masih menemukan laporan yang terkesan dipoles agar terlihat baik di hadapan pimpinan.
“Saya susah dapat laporan, mudah-mudahan ini laporan yang benar. Jangan main-main lagi dengan saya laporan palsu, laporan menyenang-nyenangkan, laporan supaya bisa akal-akalan. Saya kasih peringatan keras ini,” demikian tegas Prabowo di hadapan para pejabat dan pengelola lembaga tersebut.
Budaya ABS Disorot Presiden
Dalam kesempatan itu, Prabowo secara khusus menyoroti budaya birokrasi yang kerap dikenal dengan istilah “asal bapak senang”, yakni praktik menyusun laporan yang tidak sepenuhnya sesuai fakta demi menyenangkan pimpinan.
Baca Juga: Rudal Israel Disebut Mengenai Gedung Pejabat Korea Utara di Iran
Menurutnya, kebiasaan semacam ini sangat berbahaya karena dapat menyesatkan proses pengambilan keputusan di tingkat negara.
Jika presiden menerima data yang tidak akurat, maka kebijakan yang diambil berpotensi tidak tepat sasaran.
Prabowo mengaku pernah menerima laporan yang dimanipulasi oleh pihak tertentu di lingkungan pemerintahannya.
Tujuannya semata-mata agar kondisi yang dilaporkan terlihat lebih baik dari kenyataan.
Baca Juga: Tingkah Israel Bikin Dunia Terancam Krisis Energi, Harga Minyak Bisa Tembus US$200 per Barel
Ia menegaskan bahwa praktik tersebut tidak boleh lagi terjadi di era pemerintahannya.
Minta Data Jujur dan Faktual
Presiden menekankan bahwa laporan yang disampaikan kepada pimpinan harus berdasarkan data yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia meminta seluruh pejabat menyampaikan kondisi apa adanya, sekalipun laporan tersebut berisi masalah atau kekurangan.
“Yang saya perlukan adalah laporan yang benar. Kalau ada masalah, sampaikan apa adanya. Jangan dipoles hanya supaya terlihat bagus,” kata Prabowo.
Baca Juga: Sadar dari Mabuk, Wanita Ini Langsung Histeris Saat Tahu Celana Dalamnya Hilang, Videonya Viral
Menurutnya, kejujuran dalam pelaporan merupakan fondasi penting dalam mengelola kekayaan dan aset negara, terutama ketika pemerintah sedang mengoptimalkan berbagai instrumen investasi nasional.
Disampaikan Saat Evaluasi Kinerja Danantara
Pernyataan keras itu muncul ketika Prabowo membahas kinerja Danantara, lembaga pengelola investasi negara yang berfungsi seperti sovereign wealth fund.
Dalam laporan yang diterimanya, lembaga tersebut disebut mencatat peningkatan kinerja yang signifikan dalam satu tahun terakhir.
Salah satu indikator yang disebutkan adalah peningkatan nilai pengembalian aset atau return on assets yang dilaporkan naik lebih dari 300 persen dibanding tahun sebelumnya.
Baca Juga: Rudal Jadul Iran Tembus 4 Sistem Pertahanan Udara Canggih Israel, Kok Bisa?
Meski mengapresiasi capaian tersebut, Prabowo tetap mengingatkan agar semua angka yang disampaikan benar-benar akurat. Ia tidak ingin keberhasilan yang dilaporkan ternyata hanya hasil manipulasi data.
“Kalau angka ini benar, saya sangat gembira. Tapi saya tidak mau laporan yang dibuat-buat hanya supaya presiden senang,” ujarnya.
Peringatan Keras ke Birokrasi
Pidato tersebut sekaligus menjadi sinyal keras dari kepala negara kepada jajaran birokrasi agar meninggalkan budaya laporan palsu atau ABS yang selama ini kerap dikritik dalam sistem pemerintahan.
Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya membutuhkan data yang jujur dan transparan untuk memastikan kebijakan yang diambil benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Dengan peringatan ini, presiden berharap para pejabat tidak lagi menyembunyikan masalah atau mempercantik laporan hanya demi menjaga citra di hadapan pimpinan.
“Jangan lagi ada laporan yang dibuat hanya untuk menyenangkan atasan. Negara ini membutuhkan kejujuran,” tegasnya. [*/sh]