Barak.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin meningkat setelah muncul laporan intelijen yang menyebut Iran mulai mempersiapkan penanaman ranjau laut di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu dikenal sebagai salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia.
Informasi dihimpun Rabu (11/3/2026), aejumlah sumber keamanan Barat mengungkapkan bahwa aktivitas mencurigakan terdeteksi dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Rudal Israel Disebut Mengenai Gedung Pejabat Korea Utara di Iran
Kapal-kapal kecil milik militer Iran dilaporkan terlihat melakukan manuver yang mengindikasikan persiapan penempatan ranjau laut di perairan sekitar selat tersebut.
Laporan intelijen yang dikutip media internasional menyebutkan bahwa kapal cepat milik Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran diyakini membawa perangkat ranjau yang dapat disebarkan secara cepat di jalur pelayaran utama.
Pejabat keamanan Amerika Serikat menilai langkah itu sebagai sinyal bahwa Iran tengah mempertimbangkan opsi untuk mengganggu lalu lintas energi global sebagai respons terhadap meningkatnya konflik militer di kawasan.
Jalur Energi Paling Vital Dunia
Selat Hormuz memiliki posisi strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi internasional. Diperkirakan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap hari.
Minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebagian besar dikirim melalui jalur sempit yang hanya memiliki lebar beberapa puluh kilometer itu sebelum menuju pasar Asia, Eropa, dan Amerika.
Karena perannya yang krusial, setiap gangguan di Selat Hormuz hampir selalu berdampak langsung pada stabilitas pasar energi global.
Sejumlah analis energi memperingatkan bahwa penanaman ranjau laut dapat membuat kapal tanker minyak enggan melintas. Jika jalur tersebut benar-benar terganggu, pasokan minyak dunia bisa tersendat dan memicu lonjakan harga energi.
Iran Memiliki Ribuan Ranjau Laut
Menurut berbagai laporan militer Barat, Iran diperkirakan memiliki ribuan ranjau laut yang dapat digunakan untuk operasi penghalangan laut.
Ranjau tersebut dirancang untuk ditempatkan secara cepat menggunakan kapal kecil atau kapal patroli. Dalam skenario konflik, ranjau laut biasanya dipasang di jalur pelayaran untuk menghalangi kapal musuh atau kapal komersial.
Para analis militer menilai bahwa bahkan jumlah ranjau yang relatif kecil dapat menyebabkan gangguan besar terhadap lalu lintas kapal, karena proses pembersihan ranjau di laut membutuhkan waktu lama dan operasi militer khusus.
Kekhawatiran Pasar Energi Global
Ketegangan di kawasan Teluk langsung memicu kekhawatiran di pasar energi internasional. Harga minyak mentah dilaporkan bergerak naik setelah munculnya laporan mengenai kemungkinan penutupan jalur Hormuz.
Beberapa perusahaan pelayaran internasional juga mulai meningkatkan kewaspadaan. Sejumlah kapal tanker dilaporkan memilih menunggu di luar Teluk Persia sambil memantau perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut.
Analis energi menilai bahwa jika Selat Hormuz benar-benar terblokade, dampaknya bisa jauh lebih besar dibandingkan krisis energi sebelumnya.
Gangguan pasokan dalam skala besar dapat memicu lonjakan harga minyak global dan berdampak pada inflasi di berbagai negara yang sangat bergantung pada impor energi.
Situasi Masih Belum Terkonfirmasi Penuh
Meski laporan intelijen mengenai aktivitas penempatan ranjau mulai beredar luas, hingga kini belum ada konfirmasi resmi bahwa Selat Hormuz telah sepenuhnya ditambang atau ditutup oleh Iran.
Beberapa sumber keamanan menyebut aktivitas yang terdeteksi masih berada pada tahap persiapan atau penggelaran awal.
Namun demikian, perkembangan tersebut tetap dipantau ketat oleh negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, yang selama ini memiliki kehadiran militer kuat di kawasan Teluk. [*/sh]