Barak.id – Di zaman sekarang, jadi orang baik itu kadang terasa seperti posisi paling rawan. Bukan karena kebaikan itu salah, tapi karena tidak semua orang tahu cara menghargainya. Ada satu tipe manusia yang makin sering kita temui: Dibaikin, malah ngelunjak. Diturutin, justru makin menindas.
Awalnya mungkin terlihat biasa saja. Kita bantu sedikit, kita maklumi kesalahannya, kita turuti maunya karena ingin menjaga hubungan tetap baik.
Baca Juga: Ingin Selalu Benar dan Tak Pernah Mau Mengaku Salah? Psikolog Sebut Itu Penyakit
Tapi pelan-pelan, pola itu berubah. Kebaikan yang kita berikan dianggap sebagai kewajiban. Toleransi yang kita kasih dianggap sebagai kelemahan. Dan pada titik tertentu, kita sadar, ini bukan lagi hubungan sehat, ini eksploitasi.
Fenomena ini bisa dibilang sebagai “wabah sosial” yang diam-diam merusak banyak relasi, baik pertemanan, pekerjaan, bahkan keluarga.
Baca Juga: THR 2026 Wajib Cair Sebelum Lebaran, Telat Langsung Kena Sanksi
Orang-orang seperti ini tidak sekadar egois, tapi punya kecenderungan memanfaatkan empati orang lain tanpa rasa bersalah.
Mereka tahu kita tidak enakan. Mereka tahu kita cenderung mengalah. Dan dari situ, mereka mulai mengatur ritme sedikit demi sedikit mengambil lebih banyak, tanpa pernah merasa cukup.
Baca Juga: “Pura-pura Bego”: Strategi Mengukur Level Pengetahuan Lawan Bicara
Yang lebih parah, ketika kita mulai mencoba tegas, mereka justru memutar balik keadaan. Kita yang selama ini sabar, tiba-tiba dianggap berubah. Kita yang selama ini membantu, malah dituduh tidak peduli. Seolah-olah semua yang sudah kita lakukan tidak pernah ada artinya.
Di titik ini, banyak orang mulai mempertanyakan diri sendiri. “Apa gue salah ya?” “Apa gue kurang baik?” Padahal, bukan itu masalahnya.
Masalahnya ada pada mereka yang tidak punya batas.
Orang seperti ini sering kali kehilangan empati. Mereka tidak benar-benar melihat kita sebagai manusia yang punya batas, punya lelah, punya perasaan. Kita hanya diposisikan sebagai alat, selama masih bisa dimanfaatkan, akan terus dipakai.
Dan inilah bagian paling jujur yang harus kita terima, tidak semua orang layak untuk terus kita baiki.
Ada orang-orang yang tidak berubah meski sudah diberi berkali-kali kesempatan. Bukan karena mereka tidak bisa berubah, tapi karena mereka tidak mau. Selama mereka masih mendapatkan keuntungan dari sikap kita, tidak ada alasan bagi mereka untuk berhenti.
Jadi, sampai kapan kita mau bertahan dalam pola seperti ini?
Batas itu penting. Bukan untuk menjauhkan diri dari semua orang, tapi untuk melindungi diri dari orang yang salah. Karena kebaikan tanpa batas hanya akan menjadi undangan bagi mereka yang tidak tahu diri.
Menghindari orang seperti ini bukan berarti kita jahat. Justru itu bentuk kita menghargai diri sendiri.
Kita memilih untuk tidak lagi berada dalam lingkaran yang sama, lingkaran yang terus menguras energi tanpa pernah memberi timbal balik yang sehat.
Dalam realitas yang keras ini, menjadi manusia yang baik tetap penting. Tapi menjadi manusia yang punya batas, itu jauh lebih penting.
Karena pada akhirnya, kebaikan yang sehat adalah kebaikan yang tidak menyakiti diri sendiri.
Dan untuk mereka yang masih terus ngelunjak ketika dibaikin, terus menindas ketika diturutin, mungkin sudah saatnya kita berhenti hadir dalam hidup mereka.
Bukan karena kita berubah jadi buruk, tapi karena kita akhirnya sadar, kita juga manusia. Bukan tempat mereka seenaknya bersandar, apalagi menginjak. [*/nur]