Barak.id – Lebih dari 500 rudal jelajah dan balistik, serta hampir 2.000 drone dilaporkan telah ditembakkan Iran sejak pecahnya konflik besar di Timur Tengah pada 28 Februari 2026.
Gelombang serangan itu menyasar berbagai target di kawasan, dengan sekitar 40 persen diarahkan ke Israel.
Meski menghadapi serangan bertubi-tubi, militer Israel mengklaim sekitar 80 hingga 90 persen rudal dan drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara berlapis mereka sebelum mencapai wilayah strategis dan permukiman.
Serangan tersebut menjadi bagian dari eskalasi perang regional yang melibatkan Iran, Israel, Amerika Serikat, serta sejumlah negara Teluk.
Baca Juga: Babak Belur! Iron Dome Masih Dihujani Rudal Iran Tanpa Henti hingga Tak Berfungsi
Aksi militer ini disebut sebagai salah satu kampanye serangan udara terbesar yang pernah dilakukan Iran dalam konflik modern di kawasan Timur Tengah.
40 Persen Serangan Mengarah ke Israel
Sumber militer Iran yang dikutip sejumlah media internasional menyebutkan bahwa dari total serangan yang diluncurkan sejak akhir Februari, sekitar 40 persen diarahkan ke wilayah Israel.
Baca Juga: Benarkah Ada Negara yang Meminta Iran “Melenyapkan” Amerika Serikat?
Sementara sekitar 60 persen lainnya menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dan sekutunya di berbagai negara Teluk.
Target-target tersebut mencakup fasilitas militer di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain hingga Qatar.
Baca Juga: Kuwait Tembak Jatuh Tiga Jet Tempur F-15E Milik AS
Negara-negara tersebut diketahui menjadi lokasi penting bagi pangkalan militer AS serta jalur logistik militer di kawasan Timur Tengah.
Serangan Iran menggunakan kombinasi rudal balistik jarak menengah, rudal jelajah, serta drone tempur atau drone bunuh diri.
Baca Juga: Ratusan Pelajar Iran Tewas Digempur Serangan Udara, AS Klaim “Tak Sengaja”
Drone jenis ini dirancang untuk terbang rendah dengan kecepatan relatif lambat sehingga sulit dideteksi radar konvensional.
Israel Klaim Intersepsi Hingga 90 Persen
Meski menghadapi serangan besar-besaran, militer Israel menyatakan sebagian besar proyektil berhasil dihancurkan sebelum mencapai target.
Baca Juga: Iran Gempur 27 Target Israel-AS dengan Rudal Balistik
Pejabat pertahanan Israel mengklaim tingkat keberhasilan sistem pertahanan udara mereka mencapai antara 80 hingga 90 persen terhadap rudal dan drone yang diarahkan ke wilayah Israel.
Keberhasilan tersebut disebut berkat sistem pertahanan berlapis yang dimiliki Israel, yang terdiri dari beberapa teknologi utama, antara lain:
- Iron Dome untuk menghadapi roket dan proyektil jarak pendek
- David’s Sling untuk rudal jarak menengah
- Arrow-2 dan Arrow-3 untuk rudal balistik jarak jauh
- Sistem laser Iron Beam yang digunakan untuk menghadapi drone dan roket
Dengan sistem ini, sebagian besar ancaman berhasil dihancurkan di udara sebelum mencapai wilayah padat penduduk.
Serangan Tetap Menyebabkan Kerusakan
Meski tingkat intersepsi cukup tinggi, sejumlah rudal dan drone tetap berhasil menembus pertahanan dan menghantam beberapa wilayah.
Baca Juga: Iran Kibarkan “Bendera Darah” di Qom, Simbol Balas Dendam Habis-Habisan ke AS-Israel
Serangan yang lolos dari sistem pertahanan udara menyebabkan kerusakan pada bangunan sipil, fasilitas industri, serta infrastruktur di beberapa kota Israel.
Selain itu, beberapa negara Teluk juga melaporkan kerusakan akibat serpihan rudal dan drone yang berhasil dicegat di udara.
Baca Juga: 209 Drone Iran Hujani Palm Jumeirah Dubai, UAE Siaga Penuh
Di Uni Emirat Arab, misalnya, otoritas pertahanan menyatakan telah menghadapi ratusan proyektil sejak awal konflik, termasuk ratusan drone yang sebagian berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara negara tersebut.
Intensitas Serangan Mulai Menurun
Sejumlah analis militer Barat mencatat bahwa intensitas peluncuran rudal Iran mulai menurun beberapa hari setelah perang dimulai.
Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Meninggal Dunia, Iran Umumkan 40 Hari Berkabung
Penurunan tersebut diduga disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kerusakan fasilitas peluncuran akibat serangan udara Israel dan Amerika Serikat, serta strategi Iran untuk menghemat persenjataan jika konflik berlangsung lebih lama.
Meski demikian, para pengamat menilai kemampuan Iran untuk meluncurkan serangan massal dengan kombinasi rudal dan drone tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan. [*/sh]