Barak.id – Sikap merasa selalu benar dan menolak mengakui kesalahan kini semakin sering disorot dalam berbagai diskusi sosial, mulai dari lingkungan keluarga, tempat kerja, hingga ruang publik.
Pakar psikologi dunia Guy Winch menyebut perilaku tersebut bukan sekadar keras kepala, tetapi bisa menjadi tanda ego yang rapuh dan mekanisme pertahanan diri yang tidak sehat.
Baca Juga: THR 2026 Wajib Cair Sebelum Lebaran, Telat Langsung Kena Sanksi
Dalam kajian psikologi, seseorang yang terus membela diri meski jelas melakukan kesalahan sering kali sedang mempertahankan citra dirinya. Mengakui kesalahan dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri atau posisi sosialnya.
Fenomena ini membuat sebagian orang lebih memilih menyangkal fakta, memutarbalikkan keadaan, bahkan menyalahkan orang lain, daripada mengakui kekeliruan yang telah dibuat.
Ego Rapuh Membuat Orang Sulit Mengaku Salah
Guy Winch berpendapat, manusia secara alami tidak menyukai kesalahan. Namun pada beberapa orang, reaksi terhadap kesalahan bisa berubah menjadi penolakan total.
Baca Juga: “Pura-pura Bego”: Strategi Mengukur Level Pengetahuan Lawan Bicara
Psikolog yang juga pembicara di TED ini menjelaskan, orang yang sulit mengakui kesalahan biasanya memiliki ego yang rapuh. Mengakui kesalahan bagi mereka terasa seperti ancaman terhadap identitas dan harga diri.
Akibatnya, mereka cenderung mempertahankan posisi seolah-olah benar meski bukti menunjukkan sebaliknya.
Baca Juga: Diam-Diam Menjadi Beban
“Bagi sebagian orang, mengaku salah dianggap memperlihatkan kelemahan,” demikian pernyataannya dalam berbagai kajian perilaku manusia, dikutip Rabu (18/3/2026).
Padahal dalam praktiknya, sikap tersebut justru sering memicu konflik berkepanjangan.
Mekanisme Pertahanan Diri
Dalam teori psikologi klasik, sikap menolak kesalahan juga berkaitan dengan defense mechanism atau mekanisme pertahanan diri.
Baca Juga: 5 Apartemen di Kemang Dekat Pusat Hiburan
Konsep ini menjelaskan bahwa seseorang bisa secara tidak sadar menolak fakta yang menyakitkan demi melindungi dirinya dari rasa malu, cemas, atau takut kehilangan status.
Bentuknya bisa bermacam-macam, antara lain:
- Rasionalisasi: mencari alasan agar kesalahan terlihat benar
- Proyeksi: menyalahkan orang lain atas kesalahan sendiri
- Penyangkalan (denial): menolak fakta meskipun bukti jelas
Psikoanalis Sigmund Freud bahkan menjelaskan bahwa denial merupakan cara seseorang menolak realitas yang dianggap terlalu menyakitkan untuk diterima.
Dampaknya Bisa Merusak Hubungan
Para pakar menilai sikap tidak mau mengakui kesalahan dapat membawa dampak luas dalam hubungan sosial.
Baca Juga: 7 Manfaat Minum Air Serai Setiap Hari dan Efek Sampingnya
Orang yang selalu merasa benar sering kali:
- sulit melakukan introspeksi
- mudah menyalahkan orang lain
- menolak kritik
- dan cenderung menciptakan konflik berkepanjangan
Selain merusak hubungan interpersonal, perilaku ini juga dapat menghambat perkembangan pribadi.
Seseorang yang tidak pernah mengakui kesalahan akan kehilangan kesempatan belajar dari pengalaman.
Baca Juga: 10 Manfaat Sereh untuk Pria: Rahasia Kesehatan dan Vitalitas Alami
Dalam banyak kasus, orang dengan karakter demikian juga memiliki tingkat kesadaran diri (self-awareness) yang rendah, sehingga tidak mampu melihat dampak perilakunya terhadap orang lain.
Mengakui Kesalahan Justru Tanda Kedewasaan
Sebaliknya, para ahli menilai keberanian mengakui kesalahan merupakan ciri kedewasaan emosional.
Baca Juga: 7 Manfaat Merendam Kaki dengan Air Dingin
Seseorang yang mampu berkata “saya salah” dinilai memiliki tingkat refleksi diri yang lebih baik, serta mampu menjaga hubungan sosial secara lebih sehat.
Dalam banyak organisasi dan kepemimpinan modern, sikap terbuka terhadap kesalahan bahkan dianggap sebagai indikator integritas.
Baca Juga: 9 Manfaat Merendam Kaki dengan Air Hangat dan Cara Relaksasi Satu Langkah
Karena itu, para pakar mengingatkan bahwa budaya ingin selalu menang sendiri justru dapat menjadi “penyakit ego” yang merusak kehidupan sosial jika tidak disadari sejak dini.
Pada akhirnya, kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Namun yang membedakan seseorang bukanlah apakah ia pernah salah, melainkan apakah ia berani mengakuinya dan memperbaikinya. [*/nur]