Barak.id — Iran menuduh Donald Trump sengaja bunuh anak-anak dan menyerang warga sipil dan menyebutnya penjahat perang. Emosi Iran memuncak setelah rudal menghantam sekolah dan menewaskan banyak anak-anak.
Ketegangan politik dan militer antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan tuduhan keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Baca Juga: Jadi Target Utama Iran, IRGC: “Netanyahu Harus Kami Matikan”
Dikutip dalam sejumlah pernyataan resmi, Senin (16/3/2026), Araghchi menuduh Trump sebagai “penjahat perang” yang dianggap bertanggung jawab atas kematian warga sipil Iran akibat serangan militer Amerika Serikat dan sekutunya.
Teheran menilai operasi militer Washington di wilayah Iran tidak hanya menghantam target militer, tetapi juga menyebabkan korban di kalangan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Baca Juga: Trump “Bakar” Uang Pajak Rakyat AS Lebih dari US$30 Miliar, Untuk Perang Tanpa Tujuan Jelas
Menurut pemerintah Iran, tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan bentuk agresi yang disengaja terhadap rakyat Iran.
AS Rudal Ratusan Anak
Sebelumnya sebuah serangan rudal menghantam sekolah perempuan di Iran selatan, menewaskan ratusan anak.
Baca Juga: Rudal Iran Makin Ugal-ugalan, Tel Aviv Bak Neraka: Ledakan 24 Jam Nonstop Hantam Kota
Awalnya, pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa serangan itu bukan dilakukan oleh militer mereka.
Presiden Donald Trump bahkan menyatakan bahwa Iran sendiri kemungkinan berada di balik serangan tersebut.
Baca Juga: Aparat Keamanan Israel Mulai Frustrasi, Pukuli Warga yang Rekam Lokasi Serangan Rudal
Namun sejumlah laporan investigasi media internasional dan analisis sumber terbuka kemudian menyebutkan bahwa rudal yang menghantam sekolah tersebut kemungkinan besar berasal dari sistem persenjataan Amerika Serikat.
Investigasi awal juga mengindikasikan bahwa insiden itu terjadi karena kesalahan penentuan target dalam operasi militer.
Baca Juga: Apa Itu “Link Genius” Rank Math? Fitur AI Internal Linking yang Sedang Viral di Dunia SEO
Temuan tersebut memicu kemarahan pemerintah Iran yang menilai Washington mencoba “mencuci tangan” dari tragedi yang menewaskan warga sipil.
Serangan untuk Kepentingan Politik dan Kepuasan Pribadi Trump
Dalam pernyataannya, Araghchi menuding Trump sengaja memicu eskalasi konflik demi kepentingan politik dan ambisi pribadi.
Ia menilai keputusan militer Washington telah menghancurkan peluang de-eskalasi yang sebelumnya sempat dibuka oleh pemerintah Iran.
Menurut Araghchi, kebijakan Trump justru memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas dan membuat stabilitas Timur Tengah semakin rapuh.
Teheran juga menyatakan bahwa tanggung jawab atas setiap eskalasi konflik ke depan akan berada di tangan pemerintah Amerika Serikat.
Trump Balik Menuduh Iran
Sementara itu, Presiden Donald Trump membantah tuduhan Iran dan tetap menegaskan bahwa operasi militer Amerika ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran.
Baca Juga: 10 Negara Ikut “Ketiban Sial” Gara-gara AS–Israel Serang Iran, Indonesia Termasuk yang Kena Getahnya
Trump juga menuding pemerintah Iran menyebarkan propaganda untuk mempengaruhi opini internasional dan menyalahkan Amerika Serikat atas berbagai insiden dalam konflik tersebut.
Washington menilai Iran kerap menggunakan narasi korban sipil sebagai alat propaganda dalam perang informasi yang menyertai konflik militer. [*/sh]