Barak.id – Iran meningkatkan retorika perang dengan ancaman langsung kepada Benjamin Netanyahu. IRGC menyatakan akan memburu PM Israel di tengah perang yang telah memasuki pekan ketiga.
Iran secara terbuka mengeluarkan ancaman keras terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan menyatakan bahwa pemimpin Israel itu akan diburu dan dibunuh sebagai balasan atas serangan militer terhadap Iran.
Baca Juga: Trump “Bakar” Uang Pajak Rakyat AS Lebih dari US$30 Miliar, Untuk Perang Tanpa Tujuan Jelas
Ancaman tersebut disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu (15/3/2026).
Dalam pernyataan itu, IRGC menegaskan pihaknya akan terus mengejar Netanyahu di mana pun berada.
Baca Juga: Rudal Iran Makin Ugal-ugalan, Tel Aviv Bak Neraka: Ledakan 24 Jam Nonstop Hantam Kota
“Netanyahu adalah penjahat perang dan pembunuh anak-anak. Kami akan terus mengejar dan membunuhnya,” demikian pernyataan yang dikutip dari media pemerintah Iran, Minggu (15/3/2026).
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran internasional karena menunjukkan bahwa konflik Iran–Israel kini telah mencapai level ancaman langsung terhadap kepala pemerintahan.
Baca Juga: Aparat Keamanan Israel Mulai Frustrasi, Pukuli Warga yang Rekam Lokasi Serangan Rudal
Ancaman terhadap Netanyahu muncul di tengah perang terbuka yang kini telah memasuki pekan ketiga antara Iran, Israel, dan sekutunya.
Dalam perkembangan terbaru, IRGC mengklaim telah meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari operasi balasan terhadap Israel dan Washington.
Baca Juga: Apa Itu “Link Genius” Rank Math? Fitur AI Internal Linking yang Sedang Viral di Dunia SEO
Teheran menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan respons atas operasi militer Israel yang menghantam sejumlah fasilitas militer dan strategis Iran.
Situasi ini membuat konflik regional semakin melebar, karena Amerika Serikat juga terseret langsung dalam operasi militer tersebut.
Netanyahu Sebelumnya Klaim “Menghancurkan Rezim Iran”
Ketegangan semakin meningkat setelah Netanyahu beberapa hari sebelumnya menyampaikan pernyataan provokatif terkait operasi militer terhadap Iran.
Dalam pidatonya, Netanyahu mengklaim Israel bersama Amerika Serikat sedang “menghancurkan rezim Iran” dan membentuk ulang keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Pernyataan itu memicu kemarahan besar di Teheran dan dianggap sebagai deklarasi perang terbuka terhadap Republik Islam Iran.
Sebagai balasan, elite militer Iran menyatakan bahwa operasi militer mereka tidak akan berhenti sampai Israel menerima konsekuensi atas serangan tersebut.
Target Langsung pada Kepala Pemerintahan Israel
Ancaman pembunuhan terhadap Netanyahu menandai eskalasi yang jarang terjadi dalam konflik modern antarnegara.
Baca Juga: 10 Negara Ikut “Ketiban Sial” Gara-gara AS–Israel Serang Iran, Indonesia Termasuk yang Kena Getahnya
Biasanya, konflik militer antarnegara menghindari ancaman langsung terhadap kepala pemerintahan lawan karena berpotensi memicu perang total.
Namun dalam konflik kali ini, retorika yang digunakan kedua pihak semakin tajam.
Baca Juga: Operasi Ketupat 2026 Dimulai, Panglima TNI dan Kapolri Siapkan Ribuan Pos Pengamanan Mudik
IRGC bahkan secara eksplisit menyatakan bahwa Netanyahu akan terus menjadi target utama operasi Iran selama perang berlangsung.
Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa serangan Iran sebelumnya diduga menargetkan lokasi yang diyakini terkait dengan keamanan atau tempat tinggal Netanyahu, meskipun hal tersebut belum dikonfirmasi secara resmi. [*/sh]