Barak.id – Dua kapal tanker minyak internasional dilaporkan diserang di perairan Teluk Persia dekat Irak di tengah memanasnya perang Iran melawan Israel dan sekutunya. Serangan yang memicu kebakaran hebat di laut itu langsung mengguncang pasar energi global, mendorong harga minyak melonjak lebih dari 6 persen dan memaksa Irak menghentikan sementara operasional sejumlah terminal minyaknya
Dua kapal tanker minyak asing diserang di perairan Irak, memicu kebakaran besar dan membuat aktivitas ekspor minyak di kawasan itu lumpuh sementara.
Informasi dihimpun Kamis (12/3/2026), di saat yang sama, Iran justru mengumumkan tiga syarat utama untuk mengakhiri perang yang kini melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Serangan terhadap kapal tanker terjadi di wilayah dekat Basra, salah satu jalur vital perdagangan energi dunia.
Baca Juga: Prabowo Marah Soal Budaya “Asal Bapak Senang”, Minta Pejabat Stop Laporan Palsu
Laporan awal menyebutkan kapal diserang menggunakan perahu tak berawak bermuatan bahan peledak saat proses pemindahan kargo minyak berlangsung di laut.
Insiden tersebut memicu kepanikan di pelabuhan. Otoritas Irak langsung menghentikan seluruh operasi terminal minyak sebagai langkah darurat untuk menghindari kerusakan lebih besar dan potensi korban tambahan.
Baca Juga: Iran Diduga Mulai Tebar Ranjau Laut di Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Meledak!
Akibat serangan itu, setidaknya satu awak kapal dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya harus dievakuasi dari kapal yang terbakar.
Jalur Energi Dunia Terancam
Serangan terhadap tanker bukan sekadar insiden laut biasa. Lokasinya berada di jalur energi yang sangat sensitif bagi ekonomi global.
Baca Juga: Rudal Israel Disebut Mengenai Gedung Pejabat Korea Utara di Iran
Wilayah Teluk Persia dan Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Ketika konflik memanas dan kapal-kapal mulai menjadi target, harga energi global langsung bereaksi.
Sejumlah perusahaan pelayaran bahkan menunda perjalanan kapal karena risiko keamanan yang semakin tinggi di kawasan tersebut.
Dampaknya, harga minyak internasional sudah menembus angka lebih dari 100 dolar per barel dan dikhawatirkan terus merangkak naik jika konflik meluas.
Baca Juga: Tingkah Israel Bikin Dunia Terancam Krisis Energi, Harga Minyak Bisa Tembus US$200 per Barel
Para analis menyebut fase ini sebagai “perang energi”, ketika infrastruktur minyak dan jalur distribusi menjadi target strategis untuk menekan lawan.
Iran Ajukan Tiga Syarat Perdamaian
Di tengah eskalasi serangan tersebut, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, justru menyampaikan sinyal kemungkinan perdamaian.
Namun, Iran menetapkan tiga syarat utama yang disebut sebagai prasyarat mutlak untuk mengakhiri konflik.
Dalam pernyataannya, Pezeshkian menegaskan bahwa perang hanya bisa dihentikan jika pihak lawan memenuhi tuntutan Iran.
Baca Juga: Sadar dari Mabuk, Wanita Ini Langsung Histeris Saat Tahu Celana Dalamnya Hilang, Videonya Viral
“Cara mengakhiri perang yang dipicu oleh rezim Zionis dan Amerika adalah dengan mengakui hak-hak sah Iran,” tulisnya dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui media sosial.
Tiga syarat yang diajukan Teheran meliputi:
- Pengakuan internasional terhadap hak-hak Iran.
- Pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang.
- Jaminan internasional bahwa agresi terhadap Iran tidak akan terulang.
Tuntutan tersebut menunjukkan Iran tidak hanya ingin menghentikan konflik, tetapi juga memastikan posisi politiknya di kawasan tetap kuat setelah perang berakhir.
Serangan Regional Meluas
Sementara itu, pertempuran di kawasan Timur Tengah terus melebar.
Iran bersama kelompok sekutunya meluncurkan gelombang serangan terhadap Israel, sementara militer Israel melakukan serangan udara besar-besaran di Beirut, Lebanon.
Di sisi lain, negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi juga dilaporkan berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone yang ditembakkan dari arah Iran.
Situasi ini menunjukkan konflik tidak lagi terbatas pada satu front, melainkan telah menyebar ke berbagai titik strategis di kawasan.
Ancaman Krisis Energi Global
Ketegangan yang terus meningkat membuat pasar energi dunia berada dalam kondisi siaga.
Baca Juga: Rudal Jadul Iran Tembus 4 Sistem Pertahanan Udara Canggih Israel, Kok Bisa?
Jika jalur pelayaran di Selat Hormuz benar-benar terganggu secara permanen, dampaknya bisa sangat besar karena kawasan tersebut merupakan jalur utama distribusi minyak dari Timur Tengah ke pasar global.
Eskalasi yang tidak terkendali berpotensi memicu krisis energi global yang mengingatkan pada guncangan minyak besar pada dekade 1970-an.
Hingga kini belum ada tanda bahwa pihak Barat atau Israel siap menerima tuntutan Iran. [*/sh]