Barak.id — Harga Bitcoin kembali berada dalam tekanan. Pada perdagangan hari ini, Selasa (24/2/2026), aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar dunia itu turun ke kisaran USD 64.000 atau sekitar Rp1,06 miliar per koin. Angka tersebut lebih rendah dibanding posisi kemarin yang masih bertahan di atas Rp1,08 miliar.
Penurunan ini bukan sekadar koreksi tipis. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat melemah antara 2 hingga 4 persen, memperpanjang tren pelemahan mingguan yang sudah menembus lebih dari 7 persen. Pasar kripto pun kembali memasuki fase waspada, dengan volatilitas meningkat dan tekanan jual mendominasi perdagangan.
Baca Juga: Aksi Jual Tekan IHSG di Tengah Bursa Asia Menguat
Tekanan Jual Semakin Kuat
Jika menilik pergerakan sejak awal pekan, harga Bitcoin memang sudah menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Namun, penurunan hari ini dinilai lebih signifikan karena terjadi di area support psikologis USD 65.000.
Kemarin, Bitcoin masih bergerak relatif stabil di rentang Rp1,08–Rp1,1 miliar. Hari ini, tekanan jual membuat harga turun dan sempat menembus level krusial. Level tersebut sebelumnya menjadi titik pertahanan penting bagi pelaku pasar.
Secara teknikal, pelemahan ini memperlihatkan bahwa minat beli belum cukup kuat untuk menahan aksi ambil untung dan likuidasi jangka pendek.
Apa Penyebab Harga Bitcoin Turun?
Ada sejumlah faktor yang dinilai menjadi pemicu koreksi kali ini.
1. Arus Keluar Dana Institusional: Produk investasi berbasis Bitcoin, termasuk ETF spot di Amerika Serikat, dilaporkan mengalami arus keluar dana dalam beberapa pekan terakhir. Ketika investor institusional menarik dana, pengelola aset harus menjual kepemilikan Bitcoin mereka, sehingga menambah tekanan jual di pasar.
2. Sentimen Global yang Kurang Bersahabat: Ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat. Isu kebijakan perdagangan internasional, tensi geopolitik, serta sikap bank sentral terhadap suku bunga membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko tinggi, termasuk kripto.
3. Aksi Ambil Untung dan Likuidasi: Setelah sempat mencatat reli panjang dalam beberapa bulan terakhir, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan. Selain itu, likuidasi posisi leverage di pasar derivatif turut mempercepat penurunan harga.
4. Pergerakan “Whale”: Data on-chain menunjukkan adanya peningkatan aktivitas transfer dari dompet besar ke bursa kripto. Pergerakan ini sering diartikan sebagai sinyal potensi penjualan dalam jumlah besar.
Kombinasi faktor fundamental dan teknikal inilah yang membuat Bitcoin kembali terseret turun.
Reaksi Pasar
Koreksi harga ini memecah sentimen investor menjadi dua kubu. Sebagian melihatnya sebagai sinyal risiko lanjutan, sementara sebagian lain menilai ini sebagai peluang akumulasi.
Volume perdagangan meningkat tajam, menandakan tingginya aktivitas pasar. Namun belum terlihat lonjakan pembelian agresif yang mampu membalikkan arah tren secara cepat.
Baca Juga: Seperlima dari Total Bitcoin yang Pernah Ditambang Diperkirakan Telah Hilang Selamanya
Analis pasar kripto menyebut fase ini sebagai periode “uji mental” investor. Jika harga mampu bertahan di atas USD 63.000–64.000, peluang rebound masih terbuka. Namun bila level itu jebol secara konsisten, potensi koreksi lanjutan menuju USD 60.000 bisa terjadi.
Prediksi Esok Hari: Dua Skenario Mengemuka
Untuk perdagangan Rabu (25/2/2026), terdapat dua kemungkinan utama:
Skenario Rebound (Bullish):
Jika tekanan jual mereda dan muncul dorongan beli di area support saat ini, harga berpeluang kembali ke atas USD 66.000–68.000. Rebound teknikal jangka pendek sangat mungkin terjadi mengingat indikator RSI mulai mendekati area jenuh jual.
Skenario Lanjutan Koreksi (Bearish):
Apabila sentimen negatif global terus berlanjut dan arus keluar dana institusional belum berhenti, Bitcoin bisa menguji level USD 60.000. Penembusan level tersebut berpotensi memicu aksi jual lanjutan.
Meski demikian, sebagian analis masih menilai tren jangka menengah Bitcoin belum sepenuhnya berubah selama harga bertahan di atas rata-rata pergerakan utama (moving average) bulanan.
Koreksi atau Siklus Sehat?
Dalam sejarah pergerakannya, Bitcoin kerap mengalami koreksi 10–20 persen sebelum melanjutkan tren naik jangka panjang. Oleh karena itu, pelemahan saat ini belum tentu menjadi sinyal akhir reli.
Namun, pasar kripto dikenal sangat sensitif terhadap sentimen global dan kebijakan ekonomi makro. Setiap pernyataan pejabat bank sentral atau perkembangan geopolitik bisa memicu lonjakan volatilitas dalam hitungan jam.
Hari ini, Bitcoin tercatat lebih rendah dibanding kemarin dan berada dalam fase tekanan. Faktor arus keluar dana institusional, sentimen global, serta aksi ambil untung menjadi pemicu utama pelemahan.
Untuk esok hari, pasar berada di persimpangan, antara bangkit dari support krusial atau melanjutkan koreksi menuju level yang lebih rendah.
Yang jelas, volatilitas kembali meningkat. Dan seperti biasa di pasar kripto, satu hal yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. []











































































