Barak.id – Euforia menyelimuti Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali mencetak lonjakan tajam dan menutup perdagangan Rabu (11/2/2026) di level 8.290. Angka ini menandai reli hampir 2 persen hanya dalam satu hari, sekaligus mengirim sinyal kuat bahwa minat investor mulai bangkit.
Sejak pembukaan, IHSG langsung melesat dan tidak pernah kembali ke zona merah. Pergerakan indeks berada di kisaran 8.118 hingga 8.290, dengan transaksi yang sangat padat. Bursa mencatat lebih dari 62 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mendekati Rp30 triliun.
Dari sisi sebaran saham, mayoritas emiten ikut menguat. Lebih dari 540 saham berakhir di zona hijau, sementara yang terkoreksi hanya sekitar 150-an. Sektor energi, industri, dan konsumen menjadi motor utama penguatan pasar.
Lonjakan paling mencolok datang dari saham-saham lapis dua dan tiga. Beberapa emiten bahkan melesat lebih dari 30 persen hanya dalam sehari, menandakan spekulasi pasar yang sedang memanas.
Sentimen global menjadi bahan bakar utama reli ini. Investor bereaksi terhadap peluang pemangkasan suku bunga Amerika Serikat, menyusul melemahnya penjualan ritel Negeri Paman Sam. Harapan biaya dana yang lebih murah membuat aset berisiko kembali diburu.
Dana Global Masuk
Pasar saham Indonesia hari ini bergerak seirama dengan bursa Asia. IHSG ikut menari di tengah gelombang optimisme regional, setelah hampir seluruh indeks utama Asia ditutup menguat.
Dari Tokyo hingga Shanghai, sentimen hijau mendominasi. Vietnam, Taiwan, Korea Selatan, hingga Hong Kong mencatat kenaikan. Indonesia tidak ketinggalan, dengan IHSG melonjak hampir 2 persen dan bertengger di level 8.290.
Analis menilai, investor global tengah memindahkan dananya kembali ke pasar saham Asia. Pelemahan imbal hasil obligasi Amerika Serikat menjadi pemicu utama. Yield surat utang AS bertenor 10 tahun turun ke level terendah dalam sebulan, memicu pergeseran dana ke aset berisiko.
Di lantai bursa Jakarta, sektor energi dan industri menjadi primadona. Saham-saham di sektor ini melonjak tajam dan menjadi tulang punggung penguatan IHSG sepanjang hari.
Saham “Kecil” Menggila
Di balik lonjakan IHSG hari ini, muncul fenomena menarik: saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah justru menjadi bintang utama.
Beberapa emiten mencatat kenaikan ekstrem hingga di atas 30 persen. Lonjakan ini memicu lonjakan volume transaksi dan membuat pasar terlihat jauh lebih hidup dibanding hari-hari sebelumnya.
Sementara saham unggulan bergerak stabil, investor ritel terlihat agresif memburu saham spekulatif. Perdagangan pun memanas, dengan jutaan transaksi terjadi hanya dalam satu sesi.
Namun di sisi lain, tidak semua sektor ikut berpesta. Saham perbankan justru menjadi satu-satunya sektor yang masih tertekan. Koreksi tipis di sektor ini menahan laju IHSG agar tidak melesat lebih tinggi.
The Fed Jadi Penentu
Pergerakan IHSG hari ini bukan sekadar soal domestik. Mata pasar global tertuju ke Amerika Serikat, khususnya pada peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Data ekonomi terbaru menunjukkan konsumsi masyarakat AS mulai melemah. Penjualan ritel yang stagnan memberi sinyal bahwa mesin ekonomi Negeri Paman Sam melambat. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS akan melonggarkan kebijakan moneternya.
Pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga bisa terjadi lebih dari sekali sepanjang 2026. Harapan ini langsung direspons pasar saham, termasuk di Indonesia.
IHSG pun melesat, menutup perdagangan di zona hijau dengan reli hampir 2 persen. Bursa Asia lainnya bergerak seirama, mempertegas bahwa sentimen global kini menjadi faktor penentu utama arah pasar. []