Barak.id – Tahun 2026 dibuka dengan sinyal kurang bersahabat bagi rupiah. Nilai tukar mata uang Garuda kembali terseret ke zona pelemahan pada perdagangan Rabu, menandai tekanan yang belum juga terhenti sejak hari pertama tahun ini.
Di pasar spot, rupiah ditutup turun 0,15% dan parkir di level Rp16.775 per dolar AS. Catatan ini memperpanjang tren negatif selama empat sesi perdagangan beruntun. Hingga memasuki pekan pertama 2026, rupiah belum sekalipun mencicipi penguatan.
Tekanan terhadap rupiah kontras dengan pergerakan mata uang Asia lainnya yang mulai menunjukkan tanda pemulihan. Rupee India, yang sebelumnya ikut tertekan, berbalik arah dan menguat 0,29%. Yen Jepang ikut menguat tipis 0,07%, disusul won Korea Selatan 0,02%.
Baca Juga: Mentan Pastikan Indonesia Siap Ekspor Beras Tahun Ini
Namun di sisi lain, mayoritas mata uang kawasan masih berkumpul di zona merah. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,28%. Ringgit Malaysia terkoreksi 0,25%, baht Thailand turun 0,14%, renminbi China melemah 0,11%, dan dolar Singapura tergerus 0,1%.
Pola pergerakan ini menegaskan satu hal: rupiah masih menjadi salah satu mata uang yang paling sensitif terhadap perubahan sentimen global. Penguatan dolar AS kembali menjadi faktor utama, seiring sikap investor dunia yang cenderung mengambil posisi aman di tengah ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.
Dari dalam negeri, dukungan terhadap rupiah juga belum cukup kuat. Data inflasi Desember yang mencapai 2,92% menandakan tekanan harga yang meningkat, bahkan menyentuh level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.
Meski demikian, inflasi tersebut masih berada dalam koridor sasaran Bank Indonesia. Kondisi ini membuat pasar belum melihat adanya dorongan mendesak bagi bank sentral untuk memperketat kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Ke depan, arah rupiah masih sangat bergantung pada dua poros utama: stabilitas sentimen global dan respons kebijakan domestik. Selama dolar AS tetap perkasa dan ruang pelonggaran kebijakan di dalam negeri masih terbuka, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap berhati-hati.
Awal 2026 pun menjadi ujian ketahanan bagi rupiah. Tekanan eksternal dan domestik datang bersamaan, sementara katalis positif yang mampu membalikkan arah belum juga muncul ke permukaan. []
Discussion about this post