Barak ID
  • Indeks
  • News
    • Berita
      • People & Society
        • Religion & Belief
      • Peristiwa
      • Politik
      • Regional
        • Sumatera Utara
          • Medan
          • Deli Serdang
          • Kabupaten Simalungun
          • Pematang Siantar
        • Bandung
        • Manado
        • Sulawesi Selatan
          • Makassar
          • Toraja
      • Nasional
      • Dunia
      • Otomotif
      • Trending
  • Bisnis
    • Finansial
    • Investasi
    • Lowongan Kerja
  • Hot
    • Anime
    • Entertain
    • K Pop
    • Seleb
    • Sinopsis
  • Jejak
  • Misteri
  • Tekno
    • Aplikasi
    • Artificial Intelligence
    • Brand
    • Game
    • Laptop
    • Smartphone
    • Tablet
  • Sports
    • Badminton
    • MotoGP
    • Berita Bola
  • Spesial
  • Sensasi
  • Flona
    • Animalia
    • Nabatah
  • Wisata
No Result
View All Result
  • Indeks
  • News
    • Berita
      • People & Society
        • Religion & Belief
      • Peristiwa
      • Politik
      • Regional
        • Sumatera Utara
          • Medan
          • Deli Serdang
          • Kabupaten Simalungun
          • Pematang Siantar
        • Bandung
        • Manado
        • Sulawesi Selatan
          • Makassar
          • Toraja
      • Nasional
      • Dunia
      • Otomotif
      • Trending
  • Bisnis
    • Finansial
    • Investasi
    • Lowongan Kerja
  • Hot
    • Anime
    • Entertain
    • K Pop
    • Seleb
    • Sinopsis
  • Jejak
  • Misteri
  • Tekno
    • Aplikasi
    • Artificial Intelligence
    • Brand
    • Game
    • Laptop
    • Smartphone
    • Tablet
  • Sports
    • Badminton
    • MotoGP
    • Berita Bola
  • Spesial
  • Sensasi
  • Flona
    • Animalia
    • Nabatah
  • Wisata
No Result
View All Result
Barak ID
  • Indeks
  • Berita
  • Bisnis
  • Hot
  • Sports
  • Tekno
  • Misteri
  • Wisata & Perjalanan
  • Sensasi
  • Spesial
  • Sponsored
  • Jejak
Home Investasi

Prinsip “Time in the Market” Lebih Penting dari “Timing the Market”

Author: Noura Thaneesa
22 Februari 2025 | 02:21 WIB
Rubrik: Investasi

BARAK.ID – Dalam dunia investasi, banyak orang terjebak dalam upaya memprediksi waktu terbaik untuk membeli atau menjual aset—sebuah strategi yang dikenal sebagai timing the market.

Namun, sejarah dan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan time in the market, atau tetap bertahan dalam pasar dalam jangka panjang, justru lebih menguntungkan.

Artikel ini akan membahas mengapa prinsip ini menjadi kunci kesuksesan investasi, didukung data, contoh nyata, dan strategi implementasinya.

Artikel Terkait: Emosi Investor Pemula Bisa Bikin Pasar Saham Hancur dalam Semalam


Memahami Konsep: “Time in the Market” vs. “Timing the Market”

Apa Itu “Time in the Market”?

Time in the market merujuk pada strategi investasi jangka panjang di mana investor tetap bertahan di pasar meskipun menghadapi volatilitas.

Prinsip ini mengutamakan durasi investasi yang panjang untuk memanfaatkan pertumbuhan ekonomi dan compounding return.

Apa Itu “Timing the Market”?

Timing the market adalah upaya memprediksi naik-turunnya harga aset untuk membeli di titik terendah dan menjual di puncak.

Strategi ini bergantung pada analisis teknis, sentimen pasar, atau faktor eksternal, namun sering kali sulit diimplementasikan secara konsisten.


Mengapa “Time in the Market” Lebih Efektif?

1. Data Empiris: Kinerja Investor yang Gagal “Timing the Market”

Studi oleh Dalbar Inc. (2023) mengungkapkan bahwa investor ritel yang mencoba timing the market hanya meraih return tahunan rata-rata 5,8% dalam 30 tahun terakhir, jauh di bawah return S&P 500 yang mencapai 10,7%.

Kesalahan prediksi dan biaya transaksi yang tinggi menjadi penyebab utama.

2. Kekuatan Compounding Return

Albert Einstein menyebut compounding sebagai “keajaiban dunia kedelapan.”

Misalnya, investasi Rp100 juta dengan return tahunan 10% akan tumbuh menjadi Rp672 juta dalam 20 tahun.

Namun, jika investor keluar pasar selama 5 tahun terbaik (misalnya 2009-2013), portofolionya hanya mencapai Rp450 juta—33% lebih rendah.

3. Mengurangi Dampak Emosi

Investasi jangka panjang mengurangi keputusan impulsif akibat rasa takut (fear) atau keserakahan (greed).

Psikolog Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa emosi sering mendorong keputusan buruk, seperti menjual saat pasar anjlok atau membeli saat harga sedang tinggi.

4. Biaya Transaksi dan Pajak yang Lebih Rendah

Aktivitas trading频繁 (sering beli-jual) meningkatkan biaya komisi, spread, dan pajak keuntungan modal.

Sebaliknya, investasi pasif seperti reksa dana indeks atau ETF memiliki biaya lebih rendah, sehingga return bersih lebih optimal.


Risiko dan Kelemahan “Timing the Market”

1. Ketidakpastian Pasar yang Tidak Terduga

Pasar keuangan rentan terhadap faktor tak terduga seperti pandemi, perang, atau kebijakan moneter.

Misalnya, pada Maret 2020, pasar global jatuh 30% akibat COVID-19, namun pulih hanya dalam 6 bulan.

Investor yang menjual di titik terendah kehilangan kesempatan pemulihan.

2. Kesulitan dalam Prediksi

Penelitian Vanguard menunjukkan bahwa 70% keputusan timing the market gagal mengalahkan strategi buy-and-hold.

Bahkan profesional sekalipun kesulitan secara konsisten memprediksi tren jangka pendek.


Strategi Menerapkan “Time in the Market”

1. Diversifikasi Portofolio

Alokasikan aset ke berbagai instrumen (saham, obligasi, emas) dan sektor untuk mengurangi risiko.

Contoh: Portofolio 60% saham dan 40% obligasi historis memberikan return stabil dengan volatilitas terkendali.

2. Investasi Berkala (Dollar-Cost Averaging)

Investasi rutin setiap bulan membantu memitigasi risiko volatilitas.

Misalnya, membeli saham saat harga naik dan turun akan merata-ratakan harga beli (average cost).

3. Rebalancing Portofolio

Tinjau ulang alokasi aset setahun sekali untuk memastikan sesuai dengan profil risiko.

Misalnya, jika saham tumbuh hingga 70% dari portofolio, jual sebagian untuk kembali ke alokasi 60%.

4. Fokus pada Tujuan Jangka Panjang

Tetapkan tujuan finansial (misalnya dana pensiun atau pendidikan anak) dan hindari reaksi berlebihan terhadap fluktuasi harian.


Studi Kasus: Kinerja S&P 500 (1990-2023)

Jika Anda berinvestasi Rp1 miliar di S&P 500 pada 1990 dan tetap bertahan hingga 2023, portofolio akan tumbuh menjadi Rp38 miliar (asumsi return tahunan 10%).

Namun, jika Anda melewatkan 10 hari perdagangan terbaik dalam 33 tahun tersebut, return turun drastis menjadi Rp15 miliar.

Prinsip time in the market bukan sekadar jargon, tetapi strategi yang terbukti secara empiris. Dengan tetap bertahan di pasar, investor memanfaatkan compounding return, menghindari kesalahan emosional, dan mengurangi biaya transaksi. Seperti kata Warren Buffett, “The stock market is designed to transfer money from the active to the patient.” Daripada mencoba memprediksi waktu terbaik, fokuslah pada kedisiplinan, diversifikasi, dan konsistensi dalam investasi jangka panjang.


FAQ Singkat:

  • Q: Apakah time in the market cocok untuk semua jenis investasi?
    A: Ya, prinsip ini berlaku untuk saham, reksa dana, atau properti, aset dengan pertumbuhan jangka panjang.
  • Q: Bagaimana jika pasar mengalami resesi?
    A: Sejarah menunjukkan pasar selalu pulih. Investor yang tetap bertahan cenderung mendapatkan keuntungan dalam fase pemulihan.

Disclaimer:
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi umum semata. Konten tidak dimaksudkan sebagai saran, rekomendasi, atau ajakan untuk membeli/menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi merupakan tanggung jawab pribadi investor dan harus disesuaikan dengan tujuan finansial, profil risiko, serta kondisi keuangan masing-masing individu.

Tags: DiversifikasiInvestasiPortofolioStrategiTime in the MarketTiming the Market

Discussion about this post

Berita Terbaru

Peristiwa

Balasan Operasi Jaring Laba-laba Bisa Lebih Brutal, Ancaman Nuklir Mengemuka

10 Januari 2026 | 21:19 WIB
Peristiwa

Kondisi Sejumlah Wilayah Ukraina Setelah Dihantam Rudal Balistik dan Drone Shahed Rusia

10 Januari 2026 | 21:19 WIB
Peristiwa

Tim Panther Polsek Pemulutan Ringkus Dua Perampok di Ogan Ilir

10 Januari 2026 | 21:19 WIB
Peristiwa

Viral Siswi SMP di Muratara Dibully Gara-gara Stiker WhatsApp

10 Januari 2026 | 21:18 WIB
Peristiwa

Siswi SMP di Muratara Dijambak Teman Sekelas Jadi Tontonan Ramai-ramai

10 Januari 2026 | 21:18 WIB

Pedri Jadi Harapan Terakhir Barcelona Hadapi Madrid di El Clasico Bernabeu

10 Januari 2026 | 20:29 WIB

Cristiano Ronaldo Pernah Kunyah Rumput di Latihan Juventus

10 Januari 2026 | 20:29 WIB

Endrick Terpinggirkan, Setan Merah Siap Menyambar

10 Januari 2026 | 20:28 WIB

Keputusan Tahan Vlahovic Bikin Strategi Transfer Berantakan

10 Januari 2026 | 20:28 WIB

Nottingham Forest Pecat Ange Postecoglou Selang Beberapa Menit Usai Laga Memalukan

10 Januari 2026 | 20:28 WIB

Perjalanan ke Lembah Baliem di Jantung Papua yang Menyimpan Kisah Mistis dan Keagungan Budaya

10 Januari 2026 | 20:23 WIB

10 Spot Liburan di Sleman yang Bikin Followers Auto Iri!

10 Januari 2026 | 20:23 WIB
sinata
  • Media Kit
  • Pedoman
  • Privacy
  • Terms
  • Redaksi
Seedbacklink

© 2026
PT TOP MEDIA GRUP
Jl. Bangka IX D No. VIII, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
📧 barakdotid[at]gmail.com

No Result
View All Result
  • Indeks
  • News
    • Berita
      • People & Society
      • Peristiwa
      • Politik
      • Regional
      • Nasional
      • Dunia
      • Otomotif
      • Trending
  • Bisnis
    • Finansial
    • Investasi
    • Lowongan Kerja
  • Hot
    • Anime
    • Entertain
    • K Pop
    • Seleb
    • Sinopsis
  • Jejak
  • Misteri
  • Tekno
    • Aplikasi
    • Artificial Intelligence
    • Brand
    • Game
    • Laptop
    • Smartphone
    • Tablet
  • Sports
    • Badminton
    • MotoGP
    • Berita Bola
  • Spesial
  • Sensasi
  • Flona
    • Animalia
    • Nabatah
  • Wisata

© 2026
PT TOP MEDIA GRUP
Jl. Bangka IX D No. VIII, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
📧 barakdotid[at]gmail.com